PEMBELAJARAN SENI RUPA
RAGAM KARYA TANGAN SENI RUPA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN
![]() |
|||
![]() |
|||
![]() |
|||
![]() |
|
KELOMPOK 2 / PENYUSUN BUKU
|
|
|
1.
Aminah Wulandari
|
7. Noor Lutfiyati
|
|
2.
Annisa Rachmadyana
|
8. Nur Aini Ipmawati
|
|
3.
Dian Trimasari
|
9. Nurul Azizah Sofiatun
|
|
4.
Khoirun Nisak
|
10. Sefiana Dewi
Utami
|
|
5.
Ma’fiatun Insyah
|
11. Sidratul
Khasanah
|
|
6.
Nila Firdayanti
|
12. Zulfa Isnia
Azmi
|
PENDIDIKAN GURU RAUDHATUL ATHFAL
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2013
Editor I. Sefiana Dewi Utami
II. Nila Firdayanti
Edisi Tahun 2016
Dilarang mencopy tanpa seizin pemilik.

A.
Pengertian
Seni Rupa
Seni rupa adalah suatu wujud hasil karya
manusia yand diterima dengan indera penglihatan, dan secara garis besar dibagi
menjadi seni murni dengan seni terapan[1].
Seni rupa adalah cabang seni yang
membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakna dengan
rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep titik, garis, bidang,
bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.[2]
B.
Fungsi
Seni Rupa[3]
1.
Fungsi
Individu
a.
Fungsi
Pemenuhan Kebutuhan Fisik
Pada
dasarnya, manusia adalah makhluk homofaber yang memiliki kecakapan untuk
apresiasi pada keindahan dan pemakaian benda – benda. Seni terapan memang
mengacu kepada pemuasan kebutuhan fisik sehingga dari segi kenyamanan menjadi
hal yang penting.
b.
Fungsi
Pemenuhan Kebutuhan Emosional
Setiap
orang memiliki sifat yang berbeda – beda dengan manusia lain. Pengalaman dari
setiap orang sangatlah berbeda untuk mempengaruhi sisi emosional atau
perasaannya. Manusia mampu merasakan semua itu karena didirinya terdapat
dorongan emosional karena merupakan situasi kejiwaan pada setiap manusia
normal. Untuk memenuhi kebutuhan emosional manusia memerlukan dorongan dari
luar dirinya yang sifatnya menyenangkan, memuaskan kebutuhan batinnya.
2.
Fungsi
Sosial
a.
Fungsi
Sosial Seni Dibidang Rekreasi
Banyak aktivitas
seseorang membuat mereka merasakan kejenuhan sehingga orang tersebut memerlukan
penyebaran seperti berlibur ke tempat rekreasi objek wisata dan seni rupa juga
sebagai benda rekreasi seperti seni teater, pameran lukisan, pagelaran musik,
dan pameran bonsai. Arti seni benda rekreasi adalah seni yang menciptakan
kondisi bersifat penyebaran dan pembaharuan kondisi yang telah ada.
b.
Fungsi
Sosial Seni Bidang Komunikasi
Setiap
manusia pasti berkomunikasi dengan bahasa karena merupakan sarana komunikasi
paling efektif dapat dengan mudah dimengerti namun bahasa memiliki keterbatasan
karena tidak semua bahasa dapat dimengerti seluruh orang didunia ini karena
bahasa setiap negara berbeda – beda, maka dari itu dibutuhkan bahasa universal
yang digunakan untuk berkomunikasi di seluruh dunia ini. Berdasarkan pernyataan
tersebut, seni diyakini dapat menembus batasan – batasan verbal, maupun
perbedaan lahiriah setiap orang.
c.
Fungsi
Sosial Bidang Pendidikan
Dalam
arti luas, pendidikan adalah suatu kondisi yang bertransformasi yang mengaitkan
kondisi tertentu menjadi lebih maju. Seni dapat memberikan pendidikan karena
dari setiap pertunjukan seni terdapat makna yang disampaikan. Seni bermanfaat
untuk membimbing dan mendidik mental dan tingkahlaku seseorang berubah menjadi
kondisi yang lebih maju dari sebelumnya. Dari hal ini, bahwa seni menumbuhkan
pengalaman estetika dan etika.
d.
Fungsi
Sosial Seni Bidang Rohani
Menurut
Kar Barth bahwa keindahan bersumber dari Tuhan. Agama merupakan salah satu
sumber inspirasi seni yang berfungsi untuk kepentingan keagamaan. Pengalaman –
pengalaman religi menggambarkan bentuk nilai estetika.
Selain itu, fungsi seni
dapat dilihat dibawah ini :
·
Memuaskan batin seniman
penciptanya atau memberikan kepuasan tersendiri
·
Memberikan keindahan
yang dinikmati secara luas berdasarkan penilaian yang berbeda
·
Menyampaikan nilai –
nilai budaya dan ekspresi seniman
·
Sebagai benda kebutuhan
sehari – hari atau benda praktis
·
Sebagai media atau alat
untuk mengenang suatu peristiwa tertentu
·
Sebagai sarana ritual
keagamaan
C.
Penggolongan
Jenis Seni Rupa[4]
:
Karya seni rupa dapat digolongkan
berdasarkan fungsi atau kegunaannya, dimensi, medium yang digunakan, gaya
penciptaaan, dan aspek kesejahteraannya. Dari sudut pandang fungsi atau
kegunaan, karya seni terbagi dalam beberapa kategori yaitu:
a. Seni
Murni (fine art)[5]
Seni murni adalah seni yang diciptakan
khusus untuk mengomunikasikan nilai – nilai estetis dari karya seni itu
sendiri. Seni murni disebut juga seni ekspresif atau seni estetis yang fungsi
utamanya mengomunikasikan pengalaman estetis penciptanya kepada penikmat seni
agar mereka memperoleh pengalamann yang sama dengan penciptanya, dengan
mengabaikan fungsi ekonomi dan kegunaan praktis. Sebagai media ekspresi murni,
seni murni dapat menumbuhkan rasa senang, rasa haru, dan empati yang
ditimbulkan karena adanya keterpaduan dari unsur – unsur bentuk yang menunjang
wujud utuh dari karya tersebut seperti komposisi warna, unsur garis yang
digunakan, berbagai bentuk bidang, kemiripan bentuk dengan acuannya atau justru
menghadirkan bentuk baru yang tidak ada acuannya di alam, aspek tematik yang
diungkapkan, keunikan, tekstur, dan lain – lain. Secara garis besar, seni rupa
murni dapat dibagi menjadi seni lukis, seni patung, dan seni grafis.
b. Seni
Terapan (applied art)[6]
Seni terap sering juga disebut dengan
istilah desain yang berasal dari bahasa Itali designo, yang artinya gambar. Kata desain diberi makna baru dalam
bahasa Inggris pada abad ke-17, semakna dengan kata craft. Atas jasa Morris dan Ruskin, tokoh anti industri di Inggris
pada abad ke-19, kata desain mempunyai makna sebagai art and craft, yaitu paduan antara seni dan keterampilan. Dalam
dunia seni rupa di Indonesia, kata desain sering disepadankan dengan kata reka
bentuk, rekarupa, tatarupa, perupaan, anggitan, rancangan bangun, gagas
rekayasa, perencanaan, dan lain – lain. Dalam perkembangan selanjutnya terutama
di Indonesia, kegiatan desain dibagi menjadi desain interior (ruang dalam),
desain arsitektur (bangunan), desain tekstil, desain grafis, dan desain produk
industri.
c. Seni
Kria (craft)[7]
Seni kria merupakan kata khas dan asli
Indonesia yang bermakna keahlian, kepiawaian, kerajinan, dan ketekunan. Seni
kria merupakan karya seni rupa Indonesia asli yang mempunyai akar kuat dan
mempunyai ciri kkas yang unik dan eksotis. Dalam pohon ilmu seni rupa saat ini,
seni kria terletak pada daerah abu – abu antara seni murni dan terap. Pembagian
jenis seni kria biasanya berdasarkan bahan dan teknik pembuatannya, yaitu kria kayu
dengan teknik pahat atau ukir, kria logam dengan teknik wudulan, filligre, dan tuang atau cor, kria bambu
dengan teknik ukir dan anyam, kria rotan dengan teknik ikat dan anyam, kria
tekstil dengan teknik batik, sablon dan tenun, kria kulit dengan teknik pahat
atau anyam, dan lain – lain. Dalam perkembangannya, seni kria atau kria seni
juga digunakan sebagai media berekspresi murni, tanpa mempertimbangkan fungsi
praktisnya lagi.
D. Media Dalam
Pembelajaran Seni Rupa
1. Macam-macam
kertas
a. Kertas
doorslag
b. Kertas
CD
c. Kertas
duplikator
d. Kertas
marmer
e. Kertas
metalik
f. Kertas
HVS
g. Kertas
BC
h. Kertas
gambar
i. Kertas
ivori
j. Kertas
gloria (chromecoated)
k. Kertas
kalkir
l. Kertas
krep (klobot)
m. Kertas
minyak
n. Kertas
payung
o. Kertas
tekstur
p. Kertas
pastur
q. Kertas
buffalo
2. Media
untuk melukis
Untuk dapat mencapai
tujuan yang diinginkan, seseorang perlu mengetahui atau mengenali media untuk
mencapai tujuan yang dimaksud. Media yang digunakan untuk melukis ialah :
a) Bahan
dasar yang dilukis :
1) Kertas
gambar antara lain :
-kertas padalarang
-kertas karton
-kertas manila dan
sebagainya
2) kanvas dari kain
blaco atau mori
b) Bahan
warna
1) Cat
air, water verf, cat, plakat, tempera.
2) Cat
minyak olie verf
3) Cat
aklirik
4) Krayon/pastel
5) Warna
batik
6) Kertas
berwarna
7) Porselin
(muzaik)
8) Sipuan
(yang biasanya untuk mewarnai makanan)
c) Kwas
1) Bermacam
ukuran nomor untuk bahan cat air
2) Bermacam
ukuran nomor untuk bahan cat minyak
d) Pallet
Pallet digunakan untuk
mengaduk cat
1)
Pallet datar untuk cat
minyak.
2)
Pallet cekung untuk cat
air.
e) Pisau
pallet
Pisau pallet untuk mengaduk
cat, dapat pula berfungsi sebagai media kwas meratakan cat dipermukaan kanvas.
f) Bahan
pengencer
a) Air
untuk :
1) Cat
air
2) Cat
plakat
3) Cat
tempera
4) Akrilik
b) Minyak
cat, untuk cat minyak
c) Bensin
untuk membersihkan kwas cat minyak.
d) Lem
ancur untuk bahan perekat media porselin.[8]

A.
Daun
Bahan dan alat yang diperlukan:
kertas, pewarna, pelepah daun, buah, daun-daunan, umbi-umbian, pisau, cutter,
silet, alas pewarna, spon/busa, kapas, koran bekas.
Proses
pengerjaannya:
1.
Pilihlah penampang apa
yang akan dijadikan acuan cetaknya pelepah daun atau buah-buahan. Pelepah daun
yang sering dijadikan acuan cetak adalah: pelepah daun pisang, pelepah daun
talas, pelepah dan pepaya. Buah belimbing dapat pula dijadikan sebagai acuan
cetak.
2.
Potonglah penampang
bahan acuan cetak itu dengag dn pisau, cutter atau silet. Arah potongan bebas.
Usahakan agar permukaan potongan rata. Kerataan permukaan potongan sangat
menentukan hasil cetakannya.
3.
Siapkan perwarna.
Pewarna yang disiapkan bergantung dari keadaan bahan acuan cetaknya. Bila acuan
cetaknya masih mengeluarkan getah/cairan, cukup disediakan serbuk pewarna saja.
Pewarna akan menjadi cair setelah bersatu dengan cairan acuan cetak. Akan
tetapi bila acuan cetaknya tidak menegluarkan cairan, kita perlu menyediakan
pewarna yang sudah dicampur dengan air. Pewarna serbuk, cukup disebarkan pada
alas warna yang bentuknya datar dan rata misalnya: kaca, formica, lembaran
plastik, piring. Penampang acuan cetak yang mengandung cairan digosok-gosokan
pada serbuk warna yang ditaburkan di alas hingga rata, maka terjadilah warna
yang siap dipakai. Pewarna cair dapat dipulaskan pada busa/spon, atau pada
kapas.
4.
Mencetakkan acuan
cetak. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan ikutilah petunjuk sebagai berikut:
a. Penampang
acuan cetak yang masih basah tekankan pada pewarna yang ada pada alas warna
tadi.
b. Selanjutnya
tempelkan (sambil ditekan) acuan cetak tersebut pada kertas yang sudah
diletakkan di atas koran.
c. Kemudian
angkat acuan cetaknya. Gambar acuan cetak akan tertera pada kertas. Untuk membuat
bentuk/gambar yang sama, lakukan kegiatan seperti yang dilakukan sebelumnya
beberapa kali bergantung kebutuhan pada kertas yang sama atau yang lain.
d. Acuan
cetak yang sudah kering (tidak mengeluarkan cairan), pengisian warnanya harus
dengan cara menempelkan acuan cetak tersebut pada spons/busa atau kapas yang
sudah diisi pewarna. Pencetakannya sama seperti pada pencetakkan acuan
sebelumnya. Demikian pula pengulangan pencetakkannya.
e. Perlu
diperhatikan agar pewarna yang menempel pada acuan cetak tidak berlebihan,
tidak pula kekurangan. Bila hal ini terjadi, hasil cetakannya tidak akan
memuaskan.
Proses
pencetakkan daun-daunan dilakukan sebagai berikut:
a. Pilihlah
bentuk daun yang menarik serta ukurannya tidak terlalu lebar.
b. Siapkan
pewarna pada alas warna seperti pada cetak penampang. Usahakan agar keadaan
pewarna pada alas merata keadaannya, serta tidak terllau encer.
c. Tempelkan
permukaan daun tadi serata mungkin pada alas pewarna.
d. Selanjutnya
permukaan daun yang sudah berwarna tadi tempelkan pada kertas yang sudah
dipersiapkan. Gosoklah permukaan daun itu dengan hati-hati. Agar aman dan
leluasa menggosok, simpanlah kertas di atas permukaan daun tersebut.
Bila
mencetaknya sempurna, bentuk daun serta warna yang dipilih tergambarkan pada
kertas. Pada cetak umbi-umbian, kita harus membuata acuan cetak terlebih
dahulu. Umbi-umbian yang biasa digunakan untuk acuan cetak diantaranya adalah:
ubi jalar, kentang, talas, ketela pohon. Proses kerjanya sebagai berikut:
1.
Potonglah umbi yang
sudah dipilih untuk acuan cetak serata mungkin.
2. Buatlah
gambar/bentuk pada permukaan potongan yang rata tadi.
3. Hilangkan
atau rendahkan bagian permukaan yang nantinya tidak akan memindahkan
gambar/bentuk dengan jalan mengerat atau menorehnya.
4. Siapkan
pewarna sebelum melakukan pencetakkan. Namun sebaiknya lihat kembali proses
pencetakan penampang yang basah dan yang kering. Pada cetak umbi-umbianpun yang
masih mengandung cairan dan sebaliknya. Oleh sebab itu untuk acuan cetak dari
umbi-umbian yang masih basah, gunakan serbuk warna. Sedangkan untuk acuan cetak
dari umbi-umbian yang sudah kering, pewarna harus dicampur dahulu dengan air.
Sekali lagi tata cara pencetakannya lihat proses cetak penampang.
-
Agar pada proses cetak
ini (penampang, daun-daunan, dan umbi-umbian), digunakan alas yang empuk. Alas
yang keras kurang baik hasilnya.

Gambar
1. “Cetak Daun”
(Karya: Annisa Rahmadyana,
2016)
B. Sablon
Cetak
sablon juga sering disebut sebagai cetak tembus karena klisenya berlubang yang
dapat ditembus/dilalui oleh bahan pewarna ketika dicetakkan. Untuk membuat
klise sablon dapat digunakan kertas tebal, karton, plastik yang dilubangi
sesuai dengan gambar atau tulisan yang dikehendaki. Cetak sablon juga dapat
dilakukan dengan menggunakan klise dari bahan kasa atau saringan (screen)
, maka sering juga disebut dengan istilah cetak saring seperti banyak dilakukan
oleh perusahaan kaos. Dalam usaha percetakan buku (diktat) pernah dikenal
dengan istilah stensil (stencil). Teknik cetak ini juga termasuk cetak
tembus dengan menggunakan kertas sheet sebagai klisenya.
Cara
mengerjakan gambar cetak sablon:
1.
Klisenya dibuat dengan
langkah – langkah sebagai
berikut:
a. Merancang
gambar atau tulisan di atas permukaan bidang bahan klise
b. Gambar
rancangan dilubangi dengan pisau. Untuk rancangan gambar dengan berbagai warna,
maka setiap bagian warna sebaiknya dibuatkan klisenya masing – masing.
2. Cara
mencetaknya dengan meletakkan kertas gambar di bawah klise, kemudian diwarnai.
Cara mewarnainya dapat dilakukan dengan dikuas, disemprot, atau diroll dengan
menggunakan roller karet atau busa (silinder digelindingkan untuk meratakan
cat).
Alat dan bahan yang dibutuhkan:
pisau, cutter, gunting, kuas, kapas, spon/busa, sisir, sikat gigi, kertas, pewarna,
koran bekas, dan tempat pewarna.
Proses pengerjaannya:
1. Membuat
acuan cetak dari kertas: buatlah gambar/bentuk untuk acuan cetaknya. Torehlah
kontur/pinggir gambar tadi sampai tembus.
2. Siapkan
pewarna. Buatlah campuran warna pada tempat yang disediakan. Pewarna pada
proses sablon ini sama dengan pewarna yang digunakan pada proses ceak
sebelumnya. Kita dapat menggunakan cat air, ontan/sepuhan, pewarna kue cair,
atau pewarna alam yang sudah disebutkan sebelumnya.
3. Letakkan
acuan cetak di atas kertas yang masih utuh. Acuan cetak harus menempel
serapat-rapatnya agar tidak terjadi kebocoran pada saat pemulasan/pencetakkan.
Sebaiknya kertas tersebut dialasi kertas koran.
4. Ambil
kuas, celupkan ke pewarna, selanjutnya pulaskan pada acuan yang ditoreh tadi.
Bila pewarnaan menggunakan kapas atau spon yang dicelupkan pada pewarna, tentu
saja tidak dipulaskan seperti kuas namun kapas atau spon itu ditekan-tekankan
pada lubang acuan cetaknya.
Cara
sederhana lainnya kita gunakan sikat gigi dan sisir untuk memberi warna hasil
cetakan. Dengan menggosokkan sikat gigi yang terlebih dahulu dicelupkan ke
pewarna pada sisir, akan terjadi cipratan pewarna yang akan melalui
lubang-lubang acuan cetaknya. Hasil cetak bewarna pada proses ini dapat diatur
pada saat memulaskan atau menyemprotkan pewarna. Bidang mana serta warna apa
yang dipilih bergantung pada pilihan masing-masing.[9]

Gambar
2. “Sablon Manual”
(Karya: Ma’fiatul Insiyah, 2016)
C.
Spray
Istilah
percikan menunjukkan cara mewarnainya. Teknik ini termasuk gambar cetak karena
percikan warna di atas kertas gambar dihalangi oleh benda – benda pipih atau
potongan pola dari kertas atau karton, yang sengaja telah diatur sedemikian
rupa sehingga susunannya dapat menggambarkan suatu suasana yang bagus. Percikan
warna yang semula dengan menggunakan sikat atau kuas kasar serta sisir rambut,
pada saat sekarang dapat menggunakan semprotan air brush, cat kaleng Pyloc, atau alat penyemprot lain.
Cara
mengerjakan gambar cetak percikan:
1.
Untuk klise gambar
cetak ini dapat digunakan guntingan kertas/karton dengan pola – pola potongan
guntingan tertentu sesuai yang diinginkan atau mengikuti tema dari guru.
Guntingan ini juga dapat berbentuk pola – pola berlubang. Selain itu untuk
klise ini juga dapat digunakan benda – benda alam seperti daun, ranting kecil,
atau benda – benda kecil lain yang memiliki bentuk sesuai dengan yang
diinginkan, yang dapat disusun di atas kertas gambar yang akan dicetak.
2. Klise
potongan kertas yang telah siap atau benda alam yang telah dipilih, disusun di
atas kertas gambar sesuai dengan tema yang telah dirancang. Agar supaya ketika
dipercik atau disemprot warna tidak kabur, sebaiknya klise yang telah diatur
diatas kertas gambar ini telah direkat sedikit.
Pekerjaan
ini diakhiri dengan penyemprotan warna. Apabila menggunakan lebih dari satu
warna, cara penyemprotan bergantian, dan hasilnya akan ada sebagian warna yang
berbaur. Setelah cat mengering, kemudian klise diangkat, dan akan nampak
gambar–gambar pola berwarna putih. Dengan kecermatan yang dilakukan denga
penyemprotan berulang–ulang, dan teknik penekanan ketebalan semprotan akan
diperoleh gambaran pola – pola yang tidak sepenuhnya berwarna putih.
G
Gambar 3. “Spray”
(Karya: Neo Aisya Yuniar, 2016)
D.
Monoprint
Gambar
Cetak Mono bermula dari kata monoprint, atau cetak tunggal yang artinya
tidak dapat diulang lagi untuk menghasilkan gambar yang sama. Semula teknik
cetak adalah bertujuan untuk dapat menghasilkan karya yang sama secara berulang
– ulang. Karena itu untuk gambar cetak digunakan alat klise. Tetapi khusus
untuk cetak mono ini hanya dimanfaatkan untuk sekali cetak. Karena pembuatan
klisenya bersifat bebas, dengan meletakkan benda – benda pipih di atas kertas
gambar yang tidak terikat/terekat, maka begitu selesai digunakan untuk mencetak
bentuk susunannya sudah pasti berubah , maka cetakan sudah pasti berubah, maka
cetakan tak dapat diulang.
Cara mengerjakan gambar cetak mono :
1. Pembuatan
klisenya dengan menata benda – benda kecil yang dijadikan pola- pola gambar di
atas kertas gambar
2. Benda
– benda pipih tersebut permukaanya diolesi bahan pewarna. Bidang kertas di luar
benda – benda tersebut, sebagai latar belakang dapat juga diolesi warna, asal
dijaga warna motif atau pola klise tetap diperhitungkan dapat muncul tidak
tenggelam oleh warna latar belakang
3. Kertas
gambar yang akan dicetak diletakkan di atas permukaan klise, kemudian diusap
merata dengan telapak tangan secara berhati – hati jangan sampai menggeser
tatanan benda- benda pola tersebut
4. Selanjutkan
kertas yang dicetak diangkat dengan berhati – hati dan selesailah kerja
percetakan ini.
Alat
dan bahan yang perlukan: rol karet, pewarna,
alas pewarna (kaca, permukaan benda yang rata dan licin), dan kertas.
Prosedur pengerjaan :
1.
Siapkan
pewarna. pewarna pada proses monoprint biasannya lebih kental dan agak lengket
bila dibanding dengan pewarna yang digunakan pada proses cetak lainnya. pewarna yang berbentuk serbuk (otan/sepuhan)
ditaburkan diatas alas pewarna yang permukaannya datar dan ukurannya cukup
lebar, campurkan sedikit air dan tambahan glycerine beberapa tetes diaduk
dengan rol karet/ plastik (diglindingkan hingga rata).
2.
Siapkan
pula rol karet/plastik sederhana bisa dibuat dari bahan yang sedrhana pula
carannya sebagai berikut : siapkan slang plastik yang berdiameter ¾ inchi
sepanjang 15 cm, isi bagian dalam slang itu dengan kayu yang bulat lubangi
masing-masingt ujung kayu itu ditengahnya setelah sebelumnnya dirapikan dahulu
potongan gunakan kawat jemuran yang agak besar untuk as dan sekaligus pegangan
rol tersebut.
3.
Setelah
keadaan pewarna cukup merata pada alasnnya, simpan kertas kosong diatasnnya
jangan ditekan.
4.
Gambari
kertas tersebut dengan benda yang agak runcing, pensil, ballpoint, atau yang
laiinya. tekananbenda tadi akan mengakibatkan warna yang ada pada alas pewarna
akan berpindah menempel pada kertas.

Gambar
4. “Monoprint”
(Karya: Nuraini Ipmawati, 2016)

A.
Collage
Pengertian
Gambar Kolase (collage) adalah gambar tempelan bebas, dapat dikerjakan dengan
bahan apa saja. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia Kolase adalah Komposisi
artistik yang dibuat dari berbagai bahan (kain, kertas, kayu) yang ditempelkan
pada permukaan gambar (Depdiknas.2001,580).Hasilnya dapat berupa gambar yang
bertema, bermotif atau gambar bersifat abstrak yang hanya menampilkan keindahan
komposisi harmonis dari susunan warna, bentuk potongan bidang atau
guntingan-guntingan/potongan-potongan kertas atau kain perca yang bercorak
hias.
Kolase
berasal dari bahasa Perancis, yaitu “Coller” yang berarti lem / tempel, jadi
bisa dikatakan Kolase adalah sebuah teknik menempel unsur-unsur yang berbeda
(bisa berupa kain, kertas, kayu, dll) ke dalam sebuah frame sehingga
menghasilkan sebuah karya seni yang baru.
Secara
umum kolase adalah teknik menggabung beberapa objek menjadi satu. Tidak hanya
asal jadi, tapi objek – objek itu harus mampu bercerita untuk menciptakan kesan
tertentu. Kolase merupakan perkembangan lebih lanjut dari seni lukis. Hal ini
akan menimbulkan kesan yang berbeda dari penikmat seni / audience ketika
mengapresiasi karya kolase, karena disodori keunikan yang ditimbulkan oleh
penyusunan material-material yang berbeda di dalam sebuah frame karya seni, hal
yang tidak dapat dijumpai dari seni lukis.
Cara
mengerjakan kolase:
1. Siswa
memilih benda yang akan ditempeli seperti perkakas dapur yang berukuran tidak
besar, atau cukup pada karton/kertas gambar
2. Bahan-bahan
potongan yang akan ditempelkan dipilah-pilah (dipisah-pisah) menurut
potongannya, warnanya, atau coraknya. Apabila tempelan ini akan dibuat pola,
maka pada permukaan benda/bidang yang akan ditempeli dibuat gambar rengrengnya
(desainnya) lebih dahulu.
3. Potongan-potongan
yang telah disiapkan, ditempelkan sesuai dengan rancangannya.
4. Apabila
memungkinkan untuk penyelesaiannya sebaiknya digunakan lapisan vernis bening
dengan cara disemprotkan atau dikuas.
Manfaat kolase, antara lain:
1. Membantu
kemampuan berbahasa dengan jalan anak bisa menjelaskan makna di balik hasil
karyanya kepada guru/orang tua.
2. Melatih
kepekaan estetis
3. Berempati
pada barang-barang yang sudah tidak dipakai lagi.
4. kebersihan
lingkungan, imajinasi anak bisa saja dalam wujud material yang akan digunakan,
kalau diarahkan bahannya dapat berasal dari bahan-bahan bekas atau sampah (yang
sudah dibersihkan).
Fungsi
dari Kolase adalah :
1. Fungsi
praktis, yaitu fungsi pada benda sehari – hari, karya tersebut dapat digunakan
sebagai bahan dekorasi.
2. Fungsi
edukatif,yaitu dapat membantu mengembangkan daya pikir, daya serap, emosi,
estetika, dan kreativitas.
3. Fungsi
ekspresi, yaitu dengan menggunakan berbagai bahan dan tekstur dapat membantu
melejitkan ekspresi.
4. Fungsi
psikhologis, yaitu dengan menuangkan ide, emosi yang menimbulkan rasa puas dan
kesenangan sehingga dapat mengurangi beban psikhologis.
5. Fungsi
sosial, yaitu dapat menyediakan lapangan pekerjaan dengan banyaknya karya yang
dimiliki diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan dengan modal
kreatifitas.

Gambar 5. “Kolase”
(Karya: Nuraini
Ipmawati, 2016)
B.
Montage
Pengertian
Gambar Montase (montage) adalah gambar tempelan yang dikerjakan dengan cara
menyusun/ memadukan/ menggabungkan potongan-potongan dari gambar yang sudah
jadi dari beberapa macam gambar cetak, menjadi bentuk perwujudan gambar yang
baru. menurut kamus besar Bahasa Indonesia, Montase adalah: Komposisi gambar
yang dihasilkan dari percampuran unsur dari beberapa sumber (Depdiknas 2001,
754). Untuk pembuatan gambar montase ini diperlukan kecermatan memilih
bagian-bagian gambar yang sesuai untuk dipadukan menjadi satu tema gambar baru.
Karena faktor kesulitan dan kecermatannya tinggi maka tempelan gambar montase
ini cocok untuk siswa SD kelas atas (kelas 5 dan 6).
Cara
mengerjakan:
1. Siswa
mengumpilkan gambar-gambar cetakan dari majalah, buku-buku cerita, atau
buku-buku bacaan yang sudah tidak terpakai/bekas, ataupun gambar-gambar lain
dari gambar kemasan, poster, dan sebagainya. Kemudian siswa memilih
gambar-gambar yang selaras untuk digabung.
2. Gambar-gambar
yang telah dipilih tadi digunting menjadi bagian-bagian gambar atau pola-pola
yang nantinya akan dimontase.
3. Potongan-potongan
tadi sebelum direkat pada kertas gambar, lebih dahulu diatur hingga ditemukan
susunan yang harmonis dan menampilkan tema gambar yang baru. Jika sudah dirasa
cukup bagus barulah potongan-potongan tersebut direkat.
4. Untuk
penyelesaian akhir (finishing) gambar montase diberi bingkai dari tempelan
kertas secara rapi.
Fungsi
dari Montase adalah :
2. Fungsi
praktis, yaitu fungsi pada benda sehari – hari, karya tersebut dapat digunakan
sebagai bahan dekorasi.
3. Fungsi
edukatif, yaitu
dapat membantu mengembangkan daya pikir, daya serap, emosi, estetika, dan
kreativitas.
4. Fungsi
ekspresi, yaitu dengan menggunakan berbagai bahan dan tekstur dapat membantu
melejitkan ekspresi.
5. Fungsi
psikhologis, yaitu dengan menuangkan ide, emosi yang menimbulkan rasa puas dan
kesenangan sehingga dapat mengurangi beban psikhologis.
6. Fungsi
sosial, yaitu dapat menyediakan lapangan pekerjaan dengan banyaknya karya yang
dimiliki diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan dengan modal
kreatifitas.
Contoh Montase :
Gambar 6. “Montage”
(Karya:
Lailatul Sholikhah, 2016)
C.
Mozaik
Menurut
kamus besar Bahasa Indonesia, mozaik adalah seni dekorasi bidang dengan
kepingan bahan keras berwarna yang disusun dan ditempelkan dengan perekat
(Depdiknas 2001,756). Pengertian gambar Mozaik adalah tempelan yang di kerjakan
dengan cara menempelkan potongan-potongan gambar berwarna (biasanya bahan
kertas), atau butir-butir berwarna (biasanya biji-bijian), baik pada kertas,
karton, papan tripleks, maupun permukaan benda-benda perkakas seperti cobek,
kendi, vas bunga, dan sebagainya. Bahan yang di tempelkan tersebut berfungsi
sebagai pewarna yang mengisi bidang-bidang pola gambar dan latar belakang
gambar. Dengan demikian semua bidang terisi dengan tempelan bahan pewarna.
Cara
mengerjakan mozaik:
1. Pertama-tama
siswa membuat rancangan pola gambar dengan pensil pada bidang yang akan di
tempeli, sesuai tema/tugas yang di berikan guru seperti bunga, kupu-kupu, ikan,
burung, boneka, dan sebagainya.
Pemberian
tema-tema ini tentang jenis dan tingkat kesulitannya disesuaikan dengan tingkat
perkembangan siswa yang di ajarnya.
2. Setelah
pola-polanya siap, butir-butir warna, atau kertas warna-warni yang telah di
potong-potong di tempelkan secara rapi tidak saling tumpang tindih pada
bidang-bidang pola sesuai dengan rancangan warna gambarnya. Sebagai catatan,
untuk bahan kertas berwarna dapat di gunakan kertas bekas pakai seperti majalah
lama, sehingga tidak terlalu menggunakan kertas warna yang baru dan mahal
harganya. Bentuk dan ukuran potongan kertas warna bebas, dapat berupa potongan
segi tiga, segi empat, bundar, atau yang lain, asalkan dalam satu pola atau
karya gambar di gunakan bentuk potongan dan ukuran yang sejenis. Bahan
perekatnya dapat menggunakan jenis lem apa saja, atau perekat apa saja sesuai
dengan butir-butir atau potongan yang di tempelkan, seperti lem kanji,
arabisgom, atau sejenis lilin untuk tempelan pada alan perkakas.
Fungsi
dari Mozaik adalah :
1.
Fungsi praktis, yaitu
fungsi pada benda sehari – hari, karya tersebut dapat digunakan sebagai bahan
dekorasi.
2.
Fungsi edukatif, yaitu dapat membantu
mengembangkan daya pikir, daya serap, emosi, estetika, dan kreativitas.
3.
Fungsi ekspresi, yaitu
dengan menggunakan berbagai bahan dan tekstur dapat membantu melejitkan
ekspresi.
4.
Fungsi psikhologis,
yaitu dengan menuangkan ide, emosi yang menimbulkan rasa puas dan kesenangan
sehingga dapat mengurangi beban psikhologis.
5.
Fungsi sosial, yaitu
dapat menyediakan lapangan pekerjaan dengan banyaknya karya yang dimiliki
diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan dengan modal kreatifitas.

Gambar 7. “Mozaik”
(Karya: Sefiana
Dewi Utami, 2016)

1. Melipat
Melipat adalah kegiatan menekuk
kertas menjadi dua bagian atau lebih agar dihasilkan bentuk yang diinginkan.
2. Menggunting
Menggunting
adalah kegiatan memtong bahan menggunkan gunting sehingga menghasilkan potongan
kertas dengan pinggiran yang rapi. Guntingan kertas yang dihasilkan dapat
berbentuk lurus, zigzag dan bergelombang.
3. Menempel
Menempel
adalah egiatan menyatukan potongan-poongan kertas dengna menggunakan lem.
Hasilny dapat berupa lukisan yang indah beraneka ragam[11].
Teknik melipat, menggunting dan menempel
merupakan permainan kreasi bentuk yang menggunakan bahan kertas misalnya menggunakan
kertas origami, HVS dan lebih baik menggunakan kertas yang berwarna sehingga
membentuk karya yang lebih menarik.
Seni menggunting/memotong kertas ini
dapat menghasilkan bentuk guntingan hiasan dengan menggunakan bahan kertas
tipis seperti kertas tulis baik putih maupun berwarna. Hasil guntingan kertas
hias dapat dipasang secara ditempel ataupun digantung. Karena pada dasarnya
kegiatan jenis kerajianan tangan ini juga menggunakan tekhnik melipat, maka
sering disebut juga istilah seni melipat dan menggunting kertas. Bahkan dalam
penyelesainnya sering pula menggunakan rekatan.[12]
Langkah–langkah
Kerja Menggunting
Kegiatan menggunting merupakan kegiatan
kreatif yang menarik bagi anak-anak. Menggunting membutuhkan langkah kerja yang
memudahkan anak untuk melakukannya. Secara umum prosedur kerja menggunting
menurut Sumanto (2005: 109) adalah sebagai berikut:
a.
Tahap
persiapan
Tahap
persiapan ini dimulai dengan menentukan bentuk, ukuran
dan warna kertas yang digunakan. Juga dipersiapkan bahan pembantu dan alat yang
diperlukan sesuai model yang akan dibuat. Menentukan bentuk, ukuran, dan warna
kertas yang digunakan dalam menggunting mempengaruhi tingkat kemudahan anak
dalam melakukan menggunting. Warna kertas yang digunakan dalam menggunting
memiliki warna yang menarik anak.
b.
Tahap
pelaksanaan
Tahap
pelaksanaan yaitu melakukan pemotongan kertas tahap
demi tahap sesuai gambar pola (gambar kerja) dengan rapi sampai selesai baik
secara langsung atau tidak langsung. Menggunting secara langsung yaitu
menggunting lembaran kertas dengan alat gunting sesuai bentuk yang dibuat. Cara
menggunting tidak langsung yaitu menggunting dengan melalui atau tahapan
melipat terlebih dahulu pada lembaran kertas, baru dilakukan pengguntingan
sesuai bentuk yang dibuat.
c.
Tahap
penyelesaian.
Tahap
penyelesaian, yaitu menempelkan hasil guntingan diatas bidang gambar. Hasil
kegiatan menggunting anak ditempel pada buku hasil karya anak yang nantinya
dapat ditunjukkan hasil karya mereka di depan kelas.
Kegiatan
menggunting berdasarkan cara pembuatannya menurut Sumanto (2005: 111) dapat
dibedakan yaitu:
a.
Menggunting
secara langsung yaitu
menggunting lembaran kertas dengan alat gunting sesuai bentuk yang dibuat.
b.
Menggunting
secara tidak langsung yaitu
menggunting dengan melalui atau tahapan melipat terlebih dahulu pada
lembarankertas, baru dilakukan pengguntingan sesuai bentuk yang dibuat.
Menggunting secara tidak langsung ini biasanya disebut teknik M3 (melipat,
menggunting dan menempel).
Berikut
ini jenis menggunting secara langsung dan tidak langsung di antaranya:
a. Menggunting
lurus secara langsung.
![]() |
|||
Pola
![]() |
|||
Model
rumah
b. Menggunting
lurus secara tidak langsung.
1) Lipatan
setengah, kertas dilipat satu kali dibagian tengah (pola setengah) kemudian
digunting.
2) Lipatan
seperempat, caranya:
· kertas
bujur sangkar dilipat miring,
· hasillipatan
berbentuk segitiga kemudian dilipat satu kali lagi sampai dihasilkan bentuk
segitiga yang besarnya seperempat dari kertas bujur sangkar. Selanjutnya
digunting sesuai pola yang dibuat.
3) Lipatan
seperdelapan, caranya:
· kertas
bujur sangkar dilipat miring,
· hasil
lipatan berbentuk segitiga kemudian dilipat lagi dua kali sampai dihasilkan
bentuk segitiga yang besarnya seperdelapan dari kertas bujur sangkar.
Selanjutnya digunting sesuai pola yang dibuat.
4) Lipatan
rangkap atau bersusun, dibuat dengan menggunakan kertas empat persegi panjang,
kemudian dilipat rangkap memanjang dan selanjutnya digunting dengan arah
berlawanan.
c. Menggunting
lengkung secara langsung.
Menggunting
lengkung secara langsung yaitu menggunting lembaran kertas dengan alat gunting
secara langsung sesuai bentuk yang dibuat.
d. Menggunting
lengkung secara tidak langsung.
1) Lipatan
setengah, kertas dilipat ditengah kemudian digunting melengkung mengikuti pola.
![]() |
![]() |
Pola lipatan
kertas hasil guntingan
2) Lipatan
seperempat, kertas dilipat ditengah kemudian digunting melengkung mengikuti
pola.
3) Menggunting
lengkung pada lipatan rangkai atau lipatan rangkap.[13]
Langkah-langkah mengerjakan seni melipat
dan menggunting kertas:
a. Seni
menggunting kertas hiasan
1) Kertas
dilipat-lipat (dengan berbagaia cara), mendatar, tegak, menyudut, melintang,
membujur, atau memusat.
2) Lipatan
kertas digunting untuk menghasilkan pola-pola hias.
3) Lipatan
yang digunting (dengan pola-pola tertentu) kemudian dibuka maka terwujudlah
kertas hias yang bagus untuk ditempel ataupun digunting.


Contoh model guntingan hias
b. Seni
menggunting bentuk model
1) Mengenal
dasar lipatan bentuk untuk perencanaan
model
2) Menentukan
dasar lipatan umtu dibentuk
3) Membagan
bentuk model sesaui dengan yang dikehendaki
4) Menggunting
lipatan kertas sesuai dengan yang modelnyaMelipat bagian-bagian guntingan pola
sesuai dengan model bentuknya[14]

Contoh
Model bentuk guntingan
Menempel
merupakan kegiatan lanjut dari menggunting.Menempel ini adalah kegiatan finishing
dari kegiatan 3M, karena apabila proses
penempelan ini telah dilakukan maka berakhirlah kegiatan 3M.

Gambar
8. “M3”
(Karya:
Sidratul Khasanah, 2016)

A.
Origami
Melipat kertas bagi anak-anak kita
sebenarnya sudah menjadi salah satu kegiatan bermain yang biasa dilakukan
sehari-hari. Sebagai kegiatan pembelajaran di sekolah kegiatan kerajinan tangan
melipat kertas ini disamping mengisi suasana kesenangan, sambil bermain
anak-anak dibina potensi kreativitasnya dan pengembangan rasa keindahannya.[15]
Kata origami berasal dari bahasa Jepang,
dari kata oru yang berarti melipat dan kami berarti kertas.
Penggabungan kata tersebut mengubah kata kami menjadi gami,
sehingga bukan orikami tetapi origami, artinya sama yaitu melipat
kertas.[16]
Meskipun origami lebih dikenal di
Jepang, namun lahirnya origami berasal dari negeri Cina. Berawal dari kain
perca serta aneka ragam tumbuh-tumbuhan, maka dibuatlah kertas yang nantinya
digunakan sebagai bahan pembuatan origami. Baru pada abad 16, Origami
berkembang di Spanyol, daratan Arab dan semakin populer di Jepang.[17]
Di Jepang origami diperkenalkan oleh
seorang dokter pribadi kaisar Jepang, dr. Dokkyo. Ia mengenalkannya kepada Ratu
Shotoku. Kemudian Ratu tertarik untuk
menghias kerajaan serta kuil dengan gantungan origami, sebagai simbol agama
Shinto (agamanya orang Jepang). Bertepatan dengan bulan itu pula dirayakan Tanabana,
Ratu meminta setiap orang wajib untuk membuat origami sebanyak mungkin
untuk digantungkan pada pohon keberuntungan.[18]
Di Negeri Jepang kegiatan seni melipat
kertas yang disebut origami ini bahkan
menjadi adat tradisional dalam ucapan-ucapan keagamaan. Origami ini bahannya
kertas berbentuk bujur sangkar. Dalam menciptakan bentuk-bentuk benda
menyerupai alat perkakas, kendaraan dan sebagainya, pelaksanaannya hanya dengan
teknik lipatan tanpa tenik guntingan.[19]
Langkah-langkah mengerjakan seni
melipat kertas:
1. Bagi
pemula lebih dahulu dianjurkan teknik dasar
melipat kertas melalui pengenalan arah lipatan.
2. Selanjutnya
diperkenalkan membuat bentuk-bentuk dasar.
3. Baru
kemudian dibimbing membuat model-model bentuk dimulai dari yang sederhana
berlanjut model bentuk yang lebih sulit.
4. Bagi
siswa-siswa tingkat atas, jika menggunakan diberi kesempatan berkreasi membuat
model bentuk baru melalui mencoba-coba.[20]
Kombinasi-kombinasi
dari lipatan-lipatan dasar ini membentuk dasar-dasar dari permulaan bentuk yang
dapat digunakan untuk melipat berbagai model sehingga menjadi model yang
kompleks.[21]


Gambar
9. “Origami”
(Karya: Dian Trimasari, 2016)
B.
Clay
Clay memiliki bentuk lentur mirip
seperti adonan kue, jadi mudah untuk membentuk apapun dan memudahkan kita
berkreasi. Clay mungkin nama yang belum begitu familiar dengan istilah
tersebut. Atau bisa mengenal clay hanya sebatas sebagian mainan anak – anak dari
lilin malam atau tanah liat, tetapi ternyata jenis clay beragam. Clay dapat
dibentuk berbagai macam bentuk. Clay mempunyai struktur yang liat dan mudah
dibentuk, selain itu clay juga akan mengeras jika didiamkan beberapa saat.
Berikut beberapa jenis clay yang umum digunakan[22] :
1. Lilin
malam
Sebagai mainan anak – anak, lilin malam
sangatlah lunak dan sangat mudah sekali dibentuk. Lilin malam akan mengeras
bila didiamkan dalam waktu yang lama.
2. Paper
Clay
Paper clay dapat juga disebut fiber clay
yang terbuat dari bahan dasar kertas. Cara pembuatannya percampuran antara
kertas, air dan bahan gips.
3. Clay
Roti
Cara pembuatan clay roti ini yaitu
dengan meremas – remas roti tawar sehingga menjadi remah – remah (semakin kecil semakin baik) dengan
menghilangkan dahulu bagian luar roti kemudian ditambah percampuran minyak
benzoate atau pengawet agar bahannya bisa tahan lama dan tidak mudah berjamur.
4. Clay
Tepung
Cara pembuatan hampir sama dengan clay
roti, namun tentu saja disini bahan utama yang digunakan adalah tepung. Tepung
yang digunakan biasanya tepung tapioka dan lem putih dengan perbandingan 3:2.
Setelah itu ditambahkan benzoate atau pengawet secukupnya. Campur semua adonan
sampai tidak terasa lengket. Lalu secara berkala tambahkan baby oil untuk
mempermudah proses pencampuran. Setelah semua adonan selesai baru ditambahkan
dengan pewarna sesuai keinginan (cat air).
5. Polymer
Clay
Clay polymer tergolong clay yang mahal
karena kualitasnya yang baik. Clay jenis
polimer masih tergolong langka di Indonesia. Beberapa macam clay polimer diantaranya
FIMO, Sculpey, Cernit, Premo, ProSculpt, Creall-Therm, Modello/Formello
modelene, dan Du-Kit.
6. Jumping
Clay
Biasa dijual dengan pembungkus alumunium
foil, karena jika tanpa itu akan mengeras otomatis dan tidak bisa digunakan
lagi. Biasanya digunakan untuk membuat boneka hewan atau miniatur manusia.
7.
Air Dry Clay/clay
Jepang/clay Korea
Mirip
dengan jumping clay, dijual dengan plastik kedap udara dan bisanya digunakan
untuk membuat miniature sayuran dan buah – buahan.
8. Clay
Asli (tanh liat/keramik)
Jenis
ini adalah asli dari alam, karena bersumber dari tanah liat yang kita berikan
campuran.

Batik
adalah sebuah teknik menghias permukaan tekstil dengan cara menahan pewarna.
Teknik ini dijumpai di mana saja, di benua Afrika, Amerika, Asia dan Eropa, dan
merupakan salah satu tahap pencapaian dalam peradaban manusia yang universal. Macam-macam
teknik batik ikat antara lain:
A. Batik Tritik
Kain tritik ialah menjelujur kain sesuai
corak yang diinginkan. Sementara ada yang mengatakan bahwa istilah tritik
berasal dari kata tarik. Seperti corak di daerah Solo-Yogya dikenal dengan nama
untu walang, regulon, tapak dara, gadan dan lain-lain. Proses pembuatannya
dengan cara menjelujur kain menjadi satu gumpalan menggunakan benang sehingga
jelujuran tadi menjadi rapat. Setelah diberi warna dan benang dicabut akan
didapat ragam hias berwarna putih sesuai jelujuran tadi. Jadi sebagai bahan
perintang warna celup di sini adalah benang jelujuran.
Mulanya kain tritik hanya mempunyai satu
warna latar, yaitu biru tua atau hitam dan merah mengkudu. Kemudian mengalami
perkembangan, yaitu bagian-bagian diantara corak tritik – pinggiran, badan dan
tengahan di beri warna yang kontras, warna cerah atau lembut dipadu dengan
warna gelap atau tua. Tengahan ini dapat berbentuk persegi empat, wajik atau
bulat. Warna cerah dan lembut untuk pertama kalinya diperoleh dengan memakai
cat celup sintetis analine. Ada sementara anggapan, warna-warna ini
mengingatkan pada cerahnya warna kembang, oleh sebab itu kain tersebut disebut
pula dengan istilah kain kembangan. Pemberian nama kain tersebut di atas dapat
berdasarkan teknik pembuatannya (kain tritik, kain jumputan) atau berdasarkan
warna warninya (kain kembangan) dan dapat pula berdasarkan perpaduan warnanya
(bangun tulak, pare anom dan lain-lain).[23]
B. Batik Sasirangan
Kata “Sasirangan” berasal dari kata
sirang (bahasa setempat) yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan
ditarik benangnya atau dalam istilah bahasa jahit menjahit dismoke/dijelujur.
Kalau di Jawa disebut jumputan. Kain sasirangan sekarang dibuat dengan
memakai berbagai macam bahan kain yang dijahit dengantangan. Kemudian disapu dengan bermacam-macam
warna yang diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang bercorak
aneka warna dengan garis-garis atau motif yang menawan.
Kain sasirangan yang merupakan kerajinan
khas daerah Kalimantan Selatan (Kalsel) menurut para tetua masyarakat setempat,
dulunya digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga sebagai sabuk dipakai kaum
lelaki serta sebagai selendang, kerudung, atau udat (kemben) oleh kaum
wanita. Kain ini juga sebagai pakaian adat dipakai pada upacara-upacara
adat, bahkan digunakan pada pengobatan orang sakit. Tapi saat ini, kain sasirangan
peruntukannya tidak lagi untuk spiritual sudah menjadi pakaian untuk kegiatan
sehari-hari, dan merupakan ciri khas sandang dari Kalsel.[24]
C. Batik Pelangi
Kain pelangi atau kain jumputan merupakan produk
kerajinan tenun yang diciptakan dengan teknik tie dan dye. Di Indonesia
sendiri, stilah tie dye seperti jarang digunakan karena sebagian masyarakat
lebih sering menyebutnya dengan nama kain jumputan atau kain tenun ikat. Meski
dibuat melalui serangkaian proses yang sama namun corak antara kain yang satu
dengan lembaran lainnya bisa dipastikan tidak ada yang serupa. Oleh sebab
itulah kainjumputan yang terkesan eksklusif menjadi sangat terkenal dan
dikagumi oleh banyak orang.
Teknik tie dye diduga berasal dari seni bandhu yang
usianya hampir sama dengan negeri India. Sedangkan para arkeolog menyebutkan
bahwa tie dye sudah ada sejak 500 tahun yang lalu di Mesopotamia, India, Peru,
Mexico, Yunani, dan juga di Roma. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya sebuah
mummi dari tahun 1000 SM di Mesir yang dibalut dengan kain unik menyerupai kain
jumputan. Kain tersebut diduga kuat berasal dari India dan menyebar hingga ke Mesir.
Bukti lain dari keberadaan teknik tie dye tertera pada
Prasasti Sima yang dibuat pada abad ke-10. Prasasti tersebut menunjukan bahwa
di Indonesia telah berkembang dengan pesat teknologi pembuatan kain yang
memiliki pola hias seperti tie dye atau jumputan. Hanya saja istilah yang
digunakan oleh masyarakat untuk menyebut kain tersebut berbeda-beda. Masyarakat
Palembang menyebut kain tie dye dengan istilah kain pelangi, masyarakat
Banjarmasin menyebutnya dengan nama Sasirangan, sedangkan masyarakat Jawa
menggunakan istilah tritik untuk mendifinisikan kain yang sama.
Kepopuleran teknik tie dye menjadi semakin meningkat
ketika kaum hippies Amerika sering mengenakan busana yang dibuat dengan teknik
tersebut pada akhir tahun 70-an. Motif-motif yang ditampilkan sebagian besar
memuat nilai kehidupan dan kebebasan yang terinspirasi dari sejarah perang
nuklir 50-an. Di Indonesia sendiri, pengembangan kain ikat atau jumputan
dipelopori oleh Ghea Sukasah Panggabean dan Carmanita Mambu. Kain yang
diidentikan dengan kain tradisional ini pada awalnya dibuat dengan bahan
pewarna alami yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Namun seiring dengan
perkembangan dunia mode, teknik tie dye mulai memodifikasi menjadi sebuah
teknik modern yang dapat diaplikasikan pada berbagai produk fashion seperti
kaos, rompi, jaket, jeans, legging, dan aksesoris. Meskipun teknik celup ikat
dapat diterapkan pada berbagai macam jenis kain, namun kain berbahan sutra atau
katun tetap menjadi pilihan terbaik untuk mendapatkan hasil yang maksimal.[25]
Kain
pelangi merupakan kain jumputan dengan tata warna dan ragam hias yang lebih
berfariasi. Asal mula kain pelangi didapat karena keanekaragamaan warnanya. Di
jawa tengan kain pelangi disebut kain plangi. Menurut cerita kata pelagi
berasal dari kata plong yang dalam bahasa jawa yaitu berarti lega atau kosong
pada bidang putih. Proses pembuatan kain pelangi lebih rumit dan dibagi 2
tahap. Tahap pertama, proses sama dengan kain jumputan. Kain di ikat dengan
tali besar. Tahap kedua, bidang putih yang tidak terkena ubar diwarnai (diisi)
dengan coretan kuas. Corak dan warna dikuas sesuai selera.[26]
D.
Batik Jumputan
Cara pada teknik hias jumputan ini adalah dengan mengikat kain
sesuai dengan pola yang diinginkan, lalu mencelupkannya kedalam pewarna. Kain yang diikat ketika dicelupkan kedalam
pewarna, tidak akan menyerap pewarna karena terhalang tali. Untuk menghalangi
pewarna.
Dalam membuat batik jumputan, ada 2 pewarna yang biasa dipakai.
Ada pewarna buatan atau kimiawi, ada juga pewarna alami yang diolah. Sedangkan
pewarna alam dapat dari berbagai macam bahan. Misalnya, warna biru bisa
didapatkan dari buah dan kulit pohon tarum. Warna coklat dapat dibuat dari pohon
soga. Getah pohon pisang, getah daun sirih, dan air teh basi juga bisa
dijadikan pewarna.[27]

Gambar
10. ”Batik Jumputan”
(Karya: Annisa Rachmadyana,
2016)

Gambar
11. “Batik Pelangi”
(Karya: Nila Firdayanti, 2016)

Gambar
12. “Batik Tritik”
(Karya : Dian Trimasari, 2016)

Gambar
13. “Batik Sasirangan”
(Karya: Niken Kurniawati, 2016)
1. Pengertian Puzzle
Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia puzzle adalah “teka-teki”.[28]
Menurut Hamalik, gambar adalah sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam
bentuk dua dimensi sebagai curahan perasaan dan pikiran.[29]
Menurut Patmonodewo kata
puzzle berasal dari bahasa inggris yang berarti teka-teki atau bongkar pasang,
media puzzle merupakan media sederhana yang dimainkan dengan bongkar pasang.
Puzzle secara bahasa Indonesia diartikan sebagai tebakan. maka dapat
disimpulkan bahwa game puzzle merupakan permainan edukatif yang dapat
merangsang kemampuan dan ketrampilan Kognitif anak, yang dimainkan dengan cara
membongkar pasang kepingan puzzle berdasarkan pasangannya.[30]
Kegiatan sentra puzzle
ini dapat dirangkai dengan potongan jumlah yang sesuai dengan usia anak.
Misalnya pada usia 2-3 tahun, potongan puzzlenya tidak kurang dari 4 biji; usia
3-4 tahun potongan puzzlenya tidak lebih dari 5 biji, untuk anak TK (4-5) tahun
potongan puzzlenya tidak lebih dari enam biji dan untuk SD keatas potongan
puzzlenya tidak lebih dari tujuh biji. Seperti sentra-sentra lainnya
sentra puzzle pun bisa dikemas sedemikian rupa, oleh karena itu semua
kecerdasan anak terealisasikan dengan baik. Misalnya di puzzle tersebut diberi
gambar orang yang sedang solat (untuk mencerdaskan daya spiritualisasinya
anak), dimainkan oleh dua anak (untuk mengasah daya emosi-sosial dan
interpersonal), jika permainan puzzle ini jika dilakukan oleh anak-anak maka
akan mengasah daya kompetitif anak dan lain-lain.
Berdasarkan pengertian
tentang media puzzle, maka dapat disimpulkan bahwa media puzzle merupakan alat
permainan edukatif yang dapat merangsang kemampuan matematika anak, yang
dimainkan dengan cara membongkar pasang kepingan puzzle berdasarkan
pasangannya.
2. Manfaat Puzzle bagi AUD
a. Meningkatkan Keterampilan Kognitif. Keterampilan
kognitif (cognitive skill) berkaitan dengan kemampuan untuk belajar dan
memecahkan masalah. Puzzle adalah permainan yang menarik bagi anak karena anak
pada dasarnya menyukai bentuk gambar dan warna yang menarik. Hal ini tentunya
akan berkaitan dengan peningkatan kemampuan belajar dan juga dalam memecahkan
masalah. Berinteraksi dan berdiskusi sangat mungkin terjadi saat anak berusaha
memecahkan puzzle miliknya.
b. Meningkatkan Keterampilan Motorik
Halus. Keterampilan motorik halus (fine motor skill) berkaitan dengan kemampuan
anak menggunakan otot-otot kecilnya khususnya tangan dan jari-jari tangan. Anak
balita khususnya anak berusia kurang dari tiga tahun (batita) direkomendasikan
banyak mendapatkan latihan keterampilan motorik halus. Dengan bermain puzzle
tanpa disadari anak akan belajar secara aktif menggunakan jari-jari tangannya.[31]
c.
Meningkatkan Keterampilan Sosial. Keterampilan sosial berkaitan dengan
kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Puzzle dapat dimainkan secara
perorangan. Namun puzzle dapat pula dimainkan secara kelompok. Permainan yang
dilakukan oleh anak-anak secara kelompok akan meningkatkan interaksi sosial
anak. Dalam kelompok anak akan saling menghargai, saling membantu dan
berdiskusi satu sama lain. Jika anak bermain puzzle di rumah orang tua dapat
menemani anak untuk berdiskusi menyelesaikan puzzlenya, tetapi sebaiknya
orangtua hanya memberikan arahan kepada anak dan tidak terlibat secara aktif
membantu anak menyusun puzzle.
d. Melatih koordinasi mata dan tangan. Anak
belajar mencocokkan keeping-keping puzzle dan menyusunnya menjadi satu gambar.
Ini langkah penting menuju pengembangan ketrampilan membaca.
e.
Melatih logika. Membantu melatih logika anak. Misalnya puzzle bergambar
manusia. Anak dilatih menyimpulkan dimana letak kepala, tangan, dan kaki sesuai
logika.
f.
Melatih kesabaran. Bermain puzzle membutuhkan ketekunan, kesabaran dan
memerlukan waktu untuk berfikir dalam menyelesaikan tantangan.[32]
3. Proses Pembuatan Puzzle
a. Menyediakan
bahan dan alat
Bahan yang digunakan:
·
Majalah atau media gambar yang dapat digunakan untuk puzzle
·
Kertas karton
·
Kertas Samson
·
Lem FOX.
Alat yang digunakan: Gunting,
Cutter, Pensil/spidol, Penghapus, Kuas no 12, Tempat lem/mangkuk kecil,
Penggaris plastik dan penggaris besi.
b. Membuat
bingkai dari kertas karton
1) Memotong gambar yang digunakan pada
puzzle (gambar buataan sendiri atau gambar jadi)
2) Mengukur kertas dari gambar
3) Memotong kertas karton sesuai dengan
gambar yang digunakan untuk puzzle pada bagian tengah
4) Mengukur kertas samson sesuai pola
pada kertas karton
5) Menggunting kertas samson sesuai
dengan pola bagian tengah
6) Pada sisi bagian tengah kertas
samson diberi sisa sebanyak 1-1,5 cm kemudian pada sisa kertas tersebut
dilipat dan diberi lem
7) Kemudian kertas karton diberi lem
dan diletakkan pada kertas samson,
kertas samson yang diberi sisa 1-1,5 cm dilipat untuk melapisi kertas karton
dilipatkan ke dalam dan dilem
8) Setelah jadi bingkai bagian depan
kemudian gambar yang diambil dari majalah diletakkan pada kertas karton yang
telah diambil dari bagian tengahnya yaitu dengan di lem keseluruhan kertas
karton dan gambar.
9) Gambar dari majalah dipola kemudian pola tersebut digunting pada
bagian depan.
10) Pada bagian belakang, kertas samson
dilem penuh untuk melapisi kertas karton dengan diberi sisa dari kertas samson
agar dapat merapikan kertas bagian belakang.
11) Kemudian dari kertas tersebut maka
pada bingkai atau bagian kertas di lem dengan kertas bagian bawah menjadi
bingkai
12)
Gambar yang telah dipotong kecil – kecil kemudian disusun
menjadi gambar secara utuh.
Gambar yang telah dipotong kecil – kecil kemudian disusun
menjadi gambar secara utuh.
Gambar 14. “Puzzle”
(Karya: Nuraini Ipmawati, 2016)
REFERENSI
Affandi.
2006.Seni menggambar dan kerajinan tangan. Yogyakarta : PGTKI press
Bahari,
Nooryan. 2008. Kritik Seni.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Febriana,
Putri. 2006.38 Kreasi dari Barang Bekas.
Jakarta: Cikal Aksara
FPBS-Univ.
PendidikanIndonesia.2005. Seni Rupa dan Kerajinan. Bandung
Hamalik,
Oemar. 1994. Media Pendidikan.
Bandung: Cita Aditya bakti
Indriyani,
Fitria Indriyani.Peningkatan Keterampilan Motorik Halus melalui Kegiatan Menggunting
Dengan Berbagai MediaAnak Usia Dini Di Kelompok A Tk Aba GendinganKecamatan
Kalasan Kabupaten Slemanyogyakarta. Skripsi : 2014
Kamus Bahasa Indonesia. (2003).
Kamus Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta Balai Pustaka
Nurhadiat,
Dedi. 2008.Seni Budaya dan Keterampilan 5.
Jakarta: PT Grasindo
Pamadhi,
Hajar. 2012.Pendidikan Seni (Hakikat Kurikulum Pendidikan Seni, Habitus
Seni, dan Pengajaran Seni Anak). Yogyakarta : UNY Press
Suciaty, A.al-Aziz. 2010.Ragam Latihan Khusus Asah Ketajaman Otak
Anak Plus Melejitkan Daya Ingatnya. Yogyakarta : Mitra Media
Tarjo,
Enday dkk.“ Seni Rupa dan Kerajinan”,
(Bandung : FPBS-Universitas Pendidikan Indonesia)
Tedjasaputra,
Mayke S. 2001. Bermain, Mainan Dan Permainan. Jakarta: Grasindo
Wartono,
Teguh. 1984. Pengantar pendidikan seni rupa 2. Yogyakarta : Kanisius
[1] Dr.Nooryan Bahari,M.Sn. Kritik Seni. 2008. Pustaka Pelajar.
Yogyakarta. Hlm.51
[2]https://id.m.wikipedia.org/wiki/seni_rupa
diakses pada 17 mei 2016
[3]http://www.artikelsiana.com/2015/08/seni-rupa-pengertian-seni-rupa-unsur.html?m=1
diakses pada 17 mei 2016
[4]Dr.Nooryan Bahari,M.Sn. Kritik Seni. 2008. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Hlm.81
[5] Dr.Nooryan Bahari,M.Sn. Kritik Seni. 2008. Pustaka Pelajar.
Yogyakarta. Hlm.81
[6] Dr.Nooryan Bahari,M.Sn. Kritik Seni. 2008. Pustaka Pelajar.
Yogyakarta. Hlm.84
[7] Dr.Nooryan Bahari,M.Sn. Kritik Seni. 2008. Pustaka Pelajar.
Yogyakarta. Hlm.86
[8] Teguh Wartono,
Pengantar pendidikan seni rupa 2, (Yogyakarta:Kanisius,1984), hlm. 7-8
[11] Febriana, Putri, 38 Kreasi dari Barang Bekas (Jakarta: Cikal Aksara 2012) ,. hal 3.
[12]Afandi Hm, Seni
Menggamba Dan Kerajianan Tangan, (Yogyakarta: PGTKI Press 2006),. hal 29.
[13]Fitria
Indriyani, Peningkatan
Keterampilan Motorik Halusmelalui Kegiatan Menggunting Dengan Berbagai
MediaAnak Usia Dini Di Kelompok A Tk Aba GendinganKecamatan Kalasan Kabupaten
Slemanyogyakarta., (Skripsi:2014)., hal 25-27.
[14]Afandi Hm, Seni
Menggamba Dan Kerajianan Tangan, (Yogyakarta: PGTKI Press 2006),. hal 29-30
[15] Drs. H.M. Affandi, Seni Menggambar & Kerajinan Tanagan,
(Yogyakarta : PGTKI Press Yogyakarta 2006), hal 26
[17] ibid
[18] ibid
[19] Drs. H.M. Affandi, Seni Menggambar & Kerajinan Tanagan,
(Yogyakarta : PGTKI Press Yogyakarta 2006), hal 26
[20] Drs. H.M. Affandi, Seni Menggambar & Kerajinan Tanagan,
(Yogyakarta : PGTKI Press Yogyakarta 2006), hal 27
[21]http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Martha%20Christianti,%20M.Pd./Bab%20IV.pdf
diambil 12 mei 2016
[22]http://www.mikosouvenir.com/apa-itu-clay-jenis-jenisnya/
diakses pada 16 Mei 2016 pkl.15:13
[23]https://jeashafidzh.wordpress.com/2014/10/13/tugas-tekpro-tekstil-batik-tritik-dan-tapestri/
[24]http://asj58.blogspot.co.id/2013/05/pengertian-batik-jumput-tritik-dan.html?m=1
[25]https://fitinline.com/index.php?/article/read/sejarah-kain-jumputan-di-indonesia
[26]Kursusjahityogya.blogspot.com/2015/08/komentarteknikmembuatmotifyangdigunakandiberbagaidaerahdinusantara.html
[27] Dedi Nurhadiat. Seni Budaya dan
Keterampilan 5 (Jakarta: PT Grasindo, 2008). Hal. 7-8
[28]Kamus Bahasa
Indonesia. (2003). Kamus Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta BalaiPustaka
hlm : 352
[29]Hamalik, Oemar.
Media Pendidikan. (Bandung: Cita Aditya bakti 1994). Hlm : 57
[30]Muchammad Abdulloh. Artikel Puzzle. http://aaps10.blogspot.com/2012/11/puzzle.html ( DiAkses 17 Mei 2016 .
[31]Mayke S.
Tedjasaputra,. Bermain, Mainan Dan Permainan. (Jakarta : Grasindo 2001) Hlm:
40.
[32]A. Suciaty
al-Aziz, Ragam Latihan Khusus Asah Ketajaman Otak Anak Plus Melejitkan Daya
Ingatnya. (Yogyakarta : Mitra Media 2010) Hlm: 78-80






Tidak ada komentar:
Posting Komentar