Jumat, 10 Maret 2017

Ragam Karya Tangan Seni Rupa.



PEMBELAJARAN SENI RUPA
RAGAM KARYA TANGAN SENI RUPA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN





https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjuAXgGAphl7Rp2cObjSys0CxBqzQieAKBuQGinmJ9CLSWOlqaIQEP-XMPmXyMzzxyLOtG8TNJM49WCOX7Wbk_5ZzVOClXbaXVTQNER2sE7-dSBSmMURP9eZ036imGEfYbwsIA7_Zt2bSTh/s1600/kolase1.jpg


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFWy2clHn7GS7Yucc4zZnCy9qdO54dMeNkPDPyBTmuria8xomHwubpF7UAMuEQMAcF30oI5d_QLtScdsDKja7rtIZ_9QXKSXeauU1eQ-6bkQFOwtWudpu4nCVUSjlfv7pti3FoEN5-dP4/s1600/mosaic_course.jpg

 
                                                                        








20160518_071013


 




KELOMPOK 2 / PENYUSUN BUKU
1.      Aminah Wulandari
 7. Noor Lutfiyati
2.     Annisa Rachmadyana
 8. Nur Aini Ipmawati
3.     Dian Trimasari
 9. Nurul Azizah Sofiatun
4.     Khoirun Nisak
10. Sefiana Dewi Utami
5.     Ma’fiatun Insyah
11. Sidratul Khasanah
6.     Nila Firdayanti
12. Zulfa Isnia Azmi
PENDIDIKAN GURU RAUDHATUL ATHFAL
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2013
Editor    I. Sefiana Dewi Utami
II. Nila Firdayanti
Edisi Tahun 2016

Dilarang mencopy tanpa seizin pemilik.






BAB 1
Seni Rupa
A.   Pengertian Seni Rupa
Seni rupa adalah suatu wujud hasil karya manusia yand diterima dengan indera penglihatan, dan secara garis besar dibagi menjadi seni murni dengan seni terapan[1].
Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakna dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep titik, garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.[2]
B.   Fungsi Seni Rupa[3]
1.     Fungsi Individu
a.     Fungsi Pemenuhan Kebutuhan Fisik
Pada dasarnya, manusia adalah makhluk homofaber yang memiliki kecakapan untuk apresiasi pada keindahan dan pemakaian benda – benda. Seni terapan memang mengacu kepada pemuasan kebutuhan fisik sehingga dari segi kenyamanan menjadi hal yang penting.
b.    Fungsi Pemenuhan Kebutuhan Emosional
Setiap orang memiliki sifat yang berbeda – beda dengan manusia lain. Pengalaman dari setiap orang sangatlah berbeda untuk mempengaruhi sisi emosional atau perasaannya. Manusia mampu merasakan semua itu karena didirinya terdapat dorongan emosional karena merupakan situasi kejiwaan pada setiap manusia normal. Untuk memenuhi kebutuhan emosional manusia memerlukan dorongan dari luar dirinya yang sifatnya menyenangkan, memuaskan kebutuhan batinnya.
2.     Fungsi Sosial
a.     Fungsi Sosial Seni Dibidang Rekreasi
Banyak aktivitas seseorang membuat mereka merasakan kejenuhan sehingga orang tersebut memerlukan penyebaran seperti berlibur ke tempat rekreasi objek wisata dan seni rupa juga sebagai benda rekreasi seperti seni teater, pameran lukisan, pagelaran musik, dan pameran bonsai. Arti seni benda rekreasi adalah seni yang menciptakan kondisi bersifat penyebaran dan pembaharuan kondisi yang telah ada.
b.    Fungsi Sosial Seni Bidang Komunikasi
Setiap manusia pasti berkomunikasi dengan bahasa karena merupakan sarana komunikasi paling efektif dapat dengan mudah dimengerti namun bahasa memiliki keterbatasan karena tidak semua bahasa dapat dimengerti seluruh orang didunia ini karena bahasa setiap negara berbeda – beda, maka dari itu dibutuhkan bahasa universal yang digunakan untuk berkomunikasi di seluruh dunia ini. Berdasarkan pernyataan tersebut, seni diyakini dapat menembus batasan – batasan verbal, maupun perbedaan lahiriah setiap orang.
c.      Fungsi Sosial Bidang Pendidikan
Dalam arti luas, pendidikan adalah suatu kondisi yang bertransformasi yang mengaitkan kondisi tertentu menjadi lebih maju. Seni dapat memberikan pendidikan karena dari setiap pertunjukan seni terdapat makna yang disampaikan. Seni bermanfaat untuk membimbing dan mendidik mental dan tingkahlaku seseorang berubah menjadi kondisi yang lebih maju dari sebelumnya. Dari hal ini, bahwa seni menumbuhkan pengalaman estetika dan etika.
d.    Fungsi Sosial Seni Bidang Rohani
Menurut Kar Barth bahwa keindahan bersumber dari Tuhan. Agama merupakan salah satu sumber inspirasi seni yang berfungsi untuk kepentingan keagamaan. Pengalaman – pengalaman religi menggambarkan bentuk nilai estetika.
Selain itu, fungsi seni dapat dilihat dibawah ini :
·        Memuaskan batin seniman penciptanya atau memberikan kepuasan tersendiri
·        Memberikan keindahan yang dinikmati secara luas berdasarkan penilaian yang berbeda
·        Menyampaikan nilai – nilai budaya dan ekspresi seniman
·        Sebagai benda kebutuhan sehari – hari atau benda praktis
·        Sebagai media atau alat untuk mengenang suatu peristiwa tertentu
·        Sebagai sarana ritual keagamaan

C.   Penggolongan Jenis Seni Rupa[4] :
Karya seni rupa dapat digolongkan berdasarkan fungsi atau kegunaannya, dimensi, medium yang digunakan, gaya penciptaaan, dan aspek kesejahteraannya. Dari sudut pandang fungsi atau kegunaan, karya seni terbagi dalam beberapa kategori yaitu:

a.     Seni Murni (fine art)[5]
Seni murni adalah seni yang diciptakan khusus untuk mengomunikasikan nilai – nilai estetis dari karya seni itu sendiri. Seni murni disebut juga seni ekspresif atau seni estetis yang fungsi utamanya mengomunikasikan pengalaman estetis penciptanya kepada penikmat seni agar mereka memperoleh pengalamann yang sama dengan penciptanya, dengan mengabaikan fungsi ekonomi dan kegunaan praktis. Sebagai media ekspresi murni, seni murni dapat menumbuhkan rasa senang, rasa haru, dan empati yang ditimbulkan karena adanya keterpaduan dari unsur – unsur bentuk yang menunjang wujud utuh dari karya tersebut seperti komposisi warna, unsur garis yang digunakan, berbagai bentuk bidang, kemiripan bentuk dengan acuannya atau justru menghadirkan bentuk baru yang tidak ada acuannya di alam, aspek tematik yang diungkapkan, keunikan, tekstur, dan lain – lain. Secara garis besar, seni rupa murni dapat dibagi menjadi seni lukis, seni patung, dan seni grafis.
b.     Seni Terapan (applied art)[6]
Seni terap sering juga disebut dengan istilah desain yang berasal dari bahasa Itali designo, yang artinya gambar. Kata desain diberi makna baru dalam bahasa Inggris pada abad ke-17, semakna dengan kata craft. Atas jasa Morris dan Ruskin, tokoh anti industri di Inggris pada abad ke-19, kata desain mempunyai makna sebagai art and craft, yaitu paduan antara seni dan keterampilan. Dalam dunia seni rupa di Indonesia, kata desain sering disepadankan dengan kata reka bentuk, rekarupa, tatarupa, perupaan, anggitan, rancangan bangun, gagas rekayasa, perencanaan, dan lain – lain. Dalam perkembangan selanjutnya terutama di Indonesia, kegiatan desain dibagi menjadi desain interior (ruang dalam), desain arsitektur (bangunan), desain tekstil, desain grafis, dan desain produk industri.
c.      Seni Kria (craft)[7]
Seni kria merupakan kata khas dan asli Indonesia yang bermakna keahlian, kepiawaian, kerajinan, dan ketekunan. Seni kria merupakan karya seni rupa Indonesia asli yang mempunyai akar kuat dan mempunyai ciri kkas yang unik dan eksotis. Dalam pohon ilmu seni rupa saat ini, seni kria terletak pada daerah abu – abu antara seni murni dan terap. Pembagian jenis seni kria biasanya berdasarkan bahan dan teknik pembuatannya, yaitu kria kayu dengan teknik pahat atau ukir, kria logam dengan teknik wudulan, filligre, dan tuang atau cor, kria bambu dengan teknik ukir dan anyam, kria rotan dengan teknik ikat dan anyam, kria tekstil dengan teknik batik, sablon dan tenun, kria kulit dengan teknik pahat atau anyam, dan lain – lain. Dalam perkembangannya, seni kria atau kria seni juga digunakan sebagai media berekspresi murni, tanpa mempertimbangkan fungsi praktisnya lagi.

D.   Media Dalam Pembelajaran Seni Rupa
1.     Macam-macam kertas
a.     Kertas doorslag
b.     Kertas CD
c.      Kertas duplikator
d.     Kertas marmer
e.      Kertas metalik
f.       Kertas HVS
g.     Kertas BC
h.     Kertas gambar
i.       Kertas ivori
j.       Kertas gloria (chromecoated)
k.     Kertas kalkir
l.       Kertas krep (klobot)
m.  Kertas minyak
n.     Kertas payung
o.     Kertas tekstur
p.    Kertas pastur
q.     Kertas buffalo
2.     Media untuk melukis
Untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan, seseorang perlu mengetahui atau mengenali media untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Media yang digunakan untuk melukis ialah :
a)     Bahan dasar yang dilukis :
1)    Kertas gambar antara lain :
-kertas padalarang
-kertas karton
-kertas manila dan sebagainya
2) kanvas dari kain blaco atau mori
b)    Bahan warna
1)    Cat air, water verf, cat, plakat, tempera.
2)    Cat minyak olie verf
3)    Cat aklirik
4)    Krayon/pastel
5)    Warna batik
6)    Kertas berwarna
7)    Porselin (muzaik)
8)    Sipuan (yang biasanya untuk mewarnai makanan)
c)     Kwas
1)    Bermacam ukuran nomor untuk bahan cat air
2)    Bermacam ukuran nomor untuk bahan cat minyak
d)    Pallet
Pallet digunakan untuk mengaduk cat
1)    Pallet datar untuk cat minyak.
2)    Pallet cekung untuk cat air.
e)     Pisau pallet
Pisau pallet untuk mengaduk cat, dapat pula berfungsi sebagai media kwas meratakan cat dipermukaan kanvas.
f)      Bahan pengencer
a)     Air untuk :
1)    Cat air
2)    Cat plakat
3)    Cat tempera
4)    Akrilik
b)    Minyak cat, untuk cat minyak
c)     Bensin untuk membersihkan kwas cat minyak.
d)    Lem ancur untuk bahan perekat media porselin.[8]



BAB 2
Teknik Cetak
A.   Daun
Bahan dan alat yang diperlukan: kertas, pewarna, pelepah daun, buah, daun-daunan, umbi-umbian, pisau, cutter, silet, alas pewarna, spon/busa, kapas, koran bekas.
Proses pengerjaannya:
1.     Pilihlah penampang apa yang akan dijadikan acuan cetaknya pelepah daun atau buah-buahan. Pelepah daun yang sering dijadikan acuan cetak adalah: pelepah daun pisang, pelepah daun talas, pelepah dan pepaya. Buah belimbing dapat pula dijadikan sebagai acuan cetak.
2.     Potonglah penampang bahan acuan cetak itu dengag dn pisau, cutter atau silet. Arah potongan bebas. Usahakan agar permukaan potongan rata. Kerataan permukaan potongan sangat menentukan hasil cetakannya.
3.     Siapkan perwarna. Pewarna yang disiapkan bergantung dari keadaan bahan acuan cetaknya. Bila acuan cetaknya masih mengeluarkan getah/cairan, cukup disediakan serbuk pewarna saja. Pewarna akan menjadi cair setelah bersatu dengan cairan acuan cetak. Akan tetapi bila acuan cetaknya tidak menegluarkan cairan, kita perlu menyediakan pewarna yang sudah dicampur dengan air. Pewarna serbuk, cukup disebarkan pada alas warna yang bentuknya datar dan rata misalnya: kaca, formica, lembaran plastik, piring. Penampang acuan cetak yang mengandung cairan digosok-gosokan pada serbuk warna yang ditaburkan di alas hingga rata, maka terjadilah warna yang siap dipakai. Pewarna cair dapat dipulaskan pada busa/spon, atau pada kapas.
4.     Mencetakkan acuan cetak. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan ikutilah petunjuk sebagai berikut:
a.     Penampang acuan cetak yang masih basah tekankan pada pewarna yang ada pada alas warna tadi.
b.     Selanjutnya tempelkan (sambil ditekan) acuan cetak tersebut pada kertas yang sudah diletakkan di atas koran.
c.      Kemudian angkat acuan cetaknya. Gambar acuan cetak akan tertera pada kertas. Untuk membuat bentuk/gambar yang sama, lakukan kegiatan seperti yang dilakukan sebelumnya beberapa kali bergantung kebutuhan pada kertas yang sama atau yang lain.
d.     Acuan cetak yang sudah kering (tidak mengeluarkan cairan), pengisian warnanya harus dengan cara menempelkan acuan cetak tersebut pada spons/busa atau kapas yang sudah diisi pewarna. Pencetakannya sama seperti pada pencetakkan acuan sebelumnya. Demikian pula pengulangan pencetakkannya.
e.      Perlu diperhatikan agar pewarna yang menempel pada acuan cetak tidak berlebihan, tidak pula kekurangan. Bila hal ini terjadi, hasil cetakannya tidak akan memuaskan.
Proses pencetakkan daun-daunan dilakukan sebagai berikut:
a.     Pilihlah bentuk daun yang menarik serta ukurannya tidak terlalu lebar.
b.     Siapkan pewarna pada alas warna seperti pada cetak penampang. Usahakan agar keadaan pewarna pada alas merata keadaannya, serta tidak terllau encer.
c.      Tempelkan permukaan daun tadi serata mungkin pada alas pewarna.
d.     Selanjutnya permukaan daun yang sudah berwarna tadi tempelkan pada kertas yang sudah dipersiapkan. Gosoklah permukaan daun itu dengan hati-hati. Agar aman dan leluasa menggosok, simpanlah kertas di atas permukaan daun tersebut.
Bila mencetaknya sempurna, bentuk daun serta warna yang dipilih tergambarkan pada kertas. Pada cetak umbi-umbian, kita harus membuata acuan cetak terlebih dahulu. Umbi-umbian yang biasa digunakan untuk acuan cetak diantaranya adalah: ubi jalar, kentang, talas, ketela pohon. Proses kerjanya sebagai berikut:
1.     Potonglah umbi yang sudah dipilih untuk acuan cetak serata mungkin.
2.     Buatlah gambar/bentuk pada permukaan potongan yang rata tadi.
3.     Hilangkan atau rendahkan bagian permukaan yang nantinya tidak akan memindahkan gambar/bentuk dengan jalan mengerat atau menorehnya.
4.     Siapkan pewarna sebelum melakukan pencetakkan. Namun sebaiknya lihat kembali proses pencetakan penampang yang basah dan yang kering. Pada cetak umbi-umbianpun yang masih mengandung cairan dan sebaliknya. Oleh sebab itu untuk acuan cetak dari umbi-umbian yang masih basah, gunakan serbuk warna. Sedangkan untuk acuan cetak dari umbi-umbian yang sudah kering, pewarna harus dicampur dahulu dengan air. Sekali lagi tata cara pencetakannya lihat proses cetak penampang.
-         Agar pada proses cetak ini (penampang, daun-daunan, dan umbi-umbian), digunakan alas yang empuk. Alas yang keras kurang baik hasilnya.
                   Gambar 1. “Cetak Daun”
          (Karya: Annisa Rahmadyana, 2016)

B.   Sablon
Cetak sablon juga sering disebut sebagai cetak tembus karena klisenya berlubang yang dapat ditembus/dilalui oleh bahan pewarna ketika dicetakkan. Untuk membuat klise sablon dapat digunakan kertas tebal, karton, plastik yang dilubangi sesuai dengan gambar atau tulisan yang dikehendaki. Cetak sablon juga dapat dilakukan dengan menggunakan klise dari bahan kasa atau saringan (screen) , maka sering juga disebut dengan istilah cetak saring seperti banyak dilakukan oleh perusahaan kaos. Dalam usaha percetakan buku (diktat) pernah dikenal dengan istilah stensil (stencil). Teknik cetak ini juga termasuk cetak tembus dengan menggunakan kertas sheet sebagai klisenya.
Cara mengerjakan gambar cetak sablon:
1.     Klisenya dibuat dengan langkah – langkah sebagai berikut:
a.     Merancang gambar atau tulisan di atas permukaan bidang bahan klise
b.     Gambar rancangan dilubangi dengan pisau. Untuk rancangan gambar dengan berbagai warna, maka setiap bagian warna sebaiknya dibuatkan klisenya masing – masing.
2.     Cara mencetaknya dengan meletakkan kertas gambar di bawah klise, kemudian diwarnai. Cara mewarnainya dapat dilakukan dengan dikuas, disemprot, atau diroll dengan menggunakan roller karet atau busa (silinder digelindingkan untuk meratakan cat).
Alat dan bahan yang dibutuhkan: pisau, cutter, gunting, kuas, kapas, spon/busa, sisir, sikat gigi, kertas, pewarna, koran bekas, dan tempat pewarna.
Proses pengerjaannya:
1.     Membuat acuan cetak dari kertas: buatlah gambar/bentuk untuk acuan cetaknya. Torehlah kontur/pinggir gambar tadi sampai tembus.
2.     Siapkan pewarna. Buatlah campuran warna pada tempat yang disediakan. Pewarna pada proses sablon ini sama dengan pewarna yang digunakan pada proses ceak sebelumnya. Kita dapat menggunakan cat air, ontan/sepuhan, pewarna kue cair, atau pewarna alam yang sudah disebutkan sebelumnya.
3.     Letakkan acuan cetak di atas kertas yang masih utuh. Acuan cetak harus menempel serapat-rapatnya agar tidak terjadi kebocoran pada saat pemulasan/pencetakkan. Sebaiknya kertas tersebut dialasi kertas koran.
4.     Ambil kuas, celupkan ke pewarna, selanjutnya pulaskan pada acuan yang ditoreh tadi. Bila pewarnaan menggunakan kapas atau spon yang dicelupkan pada pewarna, tentu saja tidak dipulaskan seperti kuas namun kapas atau spon itu ditekan-tekankan pada lubang acuan cetaknya.
Cara sederhana lainnya kita gunakan sikat gigi dan sisir untuk memberi warna hasil cetakan. Dengan menggosokkan sikat gigi yang terlebih dahulu dicelupkan ke pewarna pada sisir, akan terjadi cipratan pewarna yang akan melalui lubang-lubang acuan cetaknya. Hasil cetak bewarna pada proses ini dapat diatur pada saat memulaskan atau menyemprotkan pewarna. Bidang mana serta warna apa yang dipilih bergantung pada pilihan masing-masing.[9]
Gambar 2. “Sablon Manual”
(Karya: Ma’fiatul Insiyah, 2016)
C.   Spray
Istilah percikan menunjukkan cara mewarnainya. Teknik ini termasuk gambar cetak karena percikan warna di atas kertas gambar dihalangi oleh benda – benda pipih atau potongan pola dari kertas atau karton, yang sengaja telah diatur sedemikian rupa sehingga susunannya dapat menggambarkan suatu suasana yang bagus. Percikan warna yang semula dengan menggunakan sikat atau kuas kasar serta sisir rambut, pada saat sekarang dapat menggunakan semprotan air brush, cat kaleng Pyloc, atau alat penyemprot lain.
Cara mengerjakan gambar cetak percikan:
1.     Untuk klise gambar cetak ini dapat digunakan guntingan kertas/karton dengan pola – pola potongan guntingan tertentu sesuai yang diinginkan atau mengikuti tema dari guru. Guntingan ini juga dapat berbentuk pola – pola berlubang. Selain itu untuk klise ini juga dapat digunakan benda – benda alam seperti daun, ranting kecil, atau benda – benda kecil lain yang memiliki bentuk sesuai dengan yang diinginkan, yang dapat disusun di atas kertas gambar yang akan dicetak.  
2.     Klise potongan kertas yang telah siap atau benda alam yang telah dipilih, disusun di atas kertas gambar sesuai dengan tema yang telah dirancang. Agar supaya ketika dipercik atau disemprot warna tidak kabur, sebaiknya klise yang telah diatur diatas kertas gambar ini telah direkat sedikit.
Pekerjaan ini diakhiri dengan penyemprotan warna. Apabila menggunakan lebih dari satu warna, cara penyemprotan bergantian, dan hasilnya akan ada sebagian warna yang berbaur. Setelah cat mengering, kemudian klise diangkat, dan akan nampak gambar–gambar pola berwarna putih. Dengan kecermatan yang dilakukan denga penyemprotan berulang–ulang, dan teknik penekanan ketebalan semprotan akan diperoleh gambaran pola – pola yang tidak sepenuhnya berwarna putih.

G



Gambar 3. “Spray”
(Karya: Neo Aisya Yuniar, 2016)
D.   Monoprint
Gambar Cetak Mono bermula dari kata monoprint, atau cetak tunggal yang artinya tidak dapat diulang lagi untuk menghasilkan gambar yang sama. Semula teknik cetak adalah bertujuan untuk dapat menghasilkan karya yang sama secara berulang – ulang. Karena itu untuk gambar cetak digunakan alat klise. Tetapi khusus untuk cetak mono ini hanya dimanfaatkan untuk sekali cetak. Karena pembuatan klisenya bersifat bebas, dengan meletakkan benda – benda pipih di atas kertas gambar yang tidak terikat/terekat, maka begitu selesai digunakan untuk mencetak bentuk susunannya sudah pasti berubah , maka cetakan sudah pasti berubah, maka cetakan tak dapat diulang. Cara mengerjakan gambar cetak mono :
1.     Pembuatan klisenya dengan menata benda – benda kecil yang dijadikan pola- pola gambar di atas kertas gambar
2.     Benda – benda pipih tersebut permukaanya diolesi bahan pewarna. Bidang kertas di luar benda – benda tersebut, sebagai latar belakang dapat juga diolesi warna, asal dijaga warna motif atau pola klise tetap diperhitungkan dapat muncul tidak tenggelam oleh warna latar belakang
3.     Kertas gambar yang akan dicetak diletakkan di atas permukaan klise, kemudian diusap merata dengan telapak tangan secara berhati – hati jangan sampai menggeser tatanan benda- benda pola tersebut
4.     Selanjutkan kertas yang dicetak diangkat dengan berhati – hati dan selesailah kerja percetakan ini.
Alat dan bahan yang perlukan: rol karet, pewarna, alas pewarna (kaca, permukaan benda yang rata dan licin), dan kertas.

Prosedur pengerjaan :
1.     Siapkan pewarna. pewarna pada proses monoprint biasannya lebih kental dan agak lengket bila dibanding dengan pewarna yang digunakan pada proses cetak lainnya.  pewarna yang berbentuk serbuk (otan/sepuhan) ditaburkan diatas alas pewarna yang permukaannya datar dan ukurannya cukup lebar, campurkan sedikit air dan tambahan glycerine beberapa tetes diaduk dengan rol karet/ plastik (diglindingkan hingga rata).
2.     Siapkan pula rol karet/plastik sederhana bisa dibuat dari bahan yang sedrhana pula carannya sebagai berikut : siapkan slang plastik yang berdiameter ¾ inchi sepanjang 15 cm, isi bagian dalam slang itu dengan kayu yang bulat lubangi masing-masingt ujung kayu itu ditengahnya setelah sebelumnnya dirapikan dahulu potongan gunakan kawat jemuran yang agak besar untuk as dan sekaligus pegangan rol tersebut.
3.     Setelah keadaan pewarna cukup merata pada alasnnya, simpan kertas kosong diatasnnya jangan ditekan.
4.     Gambari kertas tersebut dengan benda yang agak runcing, pensil, ballpoint, atau yang laiinya. tekananbenda tadi akan mengakibatkan warna yang ada pada alas pewarna akan berpindah menempel pada kertas.
5.     Gambar yang terjadi akan terbalik keadaannya.[10]

Gambar 4. “Monoprint”
(Karya: Nuraini Ipmawati, 2016)




BAB 3
Kombinasi Bahan Alam & Bahan Buatan
A.   Collage
Pengertian Gambar Kolase (collage) adalah gambar tempelan bebas, dapat dikerjakan dengan bahan apa saja. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia Kolase adalah Komposisi artistik yang dibuat dari berbagai bahan (kain, kertas, kayu) yang ditempelkan pada permukaan gambar (Depdiknas.2001,580).Hasilnya dapat berupa gambar yang bertema, bermotif atau gambar bersifat abstrak yang hanya menampilkan keindahan komposisi harmonis dari susunan warna, bentuk potongan bidang atau guntingan-guntingan/potongan-potongan kertas atau kain perca yang bercorak hias.
Kolase berasal dari bahasa Perancis, yaitu “Coller” yang berarti lem / tempel, jadi bisa dikatakan Kolase adalah sebuah teknik menempel unsur-unsur yang berbeda (bisa berupa kain, kertas, kayu, dll) ke dalam sebuah frame sehingga menghasilkan sebuah karya seni yang baru.
Secara umum kolase adalah teknik menggabung beberapa objek menjadi satu. Tidak hanya asal jadi, tapi objek – objek itu harus mampu bercerita untuk menciptakan kesan tertentu. Kolase merupakan perkembangan lebih lanjut dari seni lukis. Hal ini akan menimbulkan kesan yang berbeda dari penikmat seni / audience ketika mengapresiasi karya kolase, karena disodori keunikan yang ditimbulkan oleh penyusunan material-material yang berbeda di dalam sebuah frame karya seni, hal yang tidak dapat dijumpai dari seni lukis.



Cara mengerjakan kolase:
1.     Siswa memilih benda yang akan ditempeli seperti perkakas dapur yang berukuran tidak besar, atau cukup pada karton/kertas gambar
2.     Bahan-bahan potongan yang akan ditempelkan dipilah-pilah (dipisah-pisah) menurut potongannya, warnanya, atau coraknya. Apabila tempelan ini akan dibuat pola, maka pada permukaan benda/bidang yang akan ditempeli dibuat gambar rengrengnya (desainnya) lebih dahulu.
3.     Potongan-potongan yang telah disiapkan, ditempelkan sesuai dengan rancangannya.
4.     Apabila memungkinkan untuk penyelesaiannya sebaiknya digunakan lapisan vernis bening dengan cara disemprotkan atau dikuas.
Manfaat kolase, antara lain:
1.     Membantu kemampuan berbahasa dengan jalan anak bisa menjelaskan makna di balik hasil karyanya kepada guru/orang tua.
2.     Melatih kepekaan estetis
3.     Berempati pada barang-barang yang sudah tidak dipakai lagi.
4.     kebersihan lingkungan, imajinasi anak bisa saja dalam wujud material yang akan digunakan, kalau diarahkan bahannya dapat berasal dari bahan-bahan bekas atau sampah (yang sudah dibersihkan).
Fungsi dari Kolase adalah :
1.     Fungsi praktis, yaitu fungsi pada benda sehari – hari, karya tersebut dapat digunakan sebagai bahan dekorasi.
2.     Fungsi edukatif,yaitu dapat membantu mengembangkan daya pikir, daya serap, emosi, estetika, dan kreativitas.
3.     Fungsi ekspresi, yaitu dengan menggunakan berbagai bahan dan tekstur dapat membantu melejitkan ekspresi.
4.     Fungsi psikhologis, yaitu dengan menuangkan ide, emosi yang menimbulkan rasa puas dan kesenangan sehingga dapat mengurangi beban psikhologis.
5.     Fungsi sosial, yaitu dapat menyediakan lapangan pekerjaan dengan banyaknya karya yang dimiliki diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan dengan modal kreatifitas.
Gambar 5. “Kolase
(Karya: Nuraini Ipmawati, 2016)

B.   Montage
Pengertian Gambar Montase (montage) adalah gambar tempelan yang dikerjakan dengan cara menyusun/ memadukan/ menggabungkan potongan-potongan dari gambar yang sudah jadi dari beberapa macam gambar cetak, menjadi bentuk perwujudan gambar yang baru. menurut kamus besar Bahasa Indonesia, Montase adalah: Komposisi gambar yang dihasilkan dari percampuran unsur dari beberapa sumber (Depdiknas 2001, 754). Untuk pembuatan gambar montase ini diperlukan kecermatan memilih bagian-bagian gambar yang sesuai untuk dipadukan menjadi satu tema gambar baru. Karena faktor kesulitan dan kecermatannya tinggi maka tempelan gambar montase ini cocok untuk siswa SD kelas atas (kelas 5 dan 6).
Cara mengerjakan:
1.     Siswa mengumpilkan gambar-gambar cetakan dari majalah, buku-buku cerita, atau buku-buku bacaan yang sudah tidak terpakai/bekas, ataupun gambar-gambar lain dari gambar kemasan, poster, dan sebagainya. Kemudian siswa memilih gambar-gambar yang selaras untuk digabung.
2.     Gambar-gambar yang telah dipilih tadi digunting menjadi bagian-bagian gambar atau pola-pola yang nantinya akan dimontase.
3.     Potongan-potongan tadi sebelum direkat pada kertas gambar, lebih dahulu diatur hingga ditemukan susunan yang harmonis dan menampilkan tema gambar yang baru. Jika sudah dirasa cukup bagus barulah potongan-potongan tersebut direkat.
4.     Untuk penyelesaian akhir (finishing) gambar montase diberi bingkai dari tempelan kertas secara rapi.
Fungsi dari Montase adalah :
2.     Fungsi praktis, yaitu fungsi pada benda sehari – hari, karya tersebut dapat digunakan sebagai bahan dekorasi.
3.     Fungsi edukatif, yaitu dapat membantu mengembangkan daya pikir, daya serap, emosi, estetika, dan kreativitas.
4.     Fungsi ekspresi, yaitu dengan menggunakan berbagai bahan dan tekstur dapat membantu melejitkan ekspresi.
5.     Fungsi psikhologis, yaitu dengan menuangkan ide, emosi yang menimbulkan rasa puas dan kesenangan sehingga dapat mengurangi beban psikhologis.
6.     Fungsi sosial, yaitu dapat menyediakan lapangan pekerjaan dengan banyaknya karya yang dimiliki diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan dengan modal kreatifitas.
Contoh Montase :
   
Gambar 6. “Montage
(Karya: Lailatul Sholikhah, 2016)

C.   Mozaik
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, mozaik adalah seni dekorasi bidang dengan kepingan bahan keras berwarna yang disusun dan ditempelkan dengan perekat (Depdiknas 2001,756). Pengertian gambar Mozaik adalah tempelan yang di kerjakan dengan cara menempelkan potongan-potongan gambar berwarna (biasanya bahan kertas), atau butir-butir berwarna (biasanya biji-bijian), baik pada kertas, karton, papan tripleks, maupun permukaan benda-benda perkakas seperti cobek, kendi, vas bunga, dan sebagainya. Bahan yang di tempelkan tersebut berfungsi sebagai pewarna yang mengisi bidang-bidang pola gambar dan latar belakang gambar. Dengan demikian semua bidang terisi dengan tempelan bahan pewarna.




Cara mengerjakan mozaik:
1.     Pertama-tama siswa membuat rancangan pola gambar dengan pensil pada bidang yang akan di tempeli, sesuai tema/tugas yang di berikan guru seperti bunga, kupu-kupu, ikan, burung, boneka, dan sebagainya. Pemberian tema-tema ini tentang jenis dan tingkat kesulitannya disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa yang di ajarnya.
2.     Setelah pola-polanya siap, butir-butir warna, atau kertas warna-warni yang telah di potong-potong di tempelkan secara rapi tidak saling tumpang tindih pada bidang-bidang pola sesuai dengan rancangan warna gambarnya. Sebagai catatan, untuk bahan kertas berwarna dapat di gunakan kertas bekas pakai seperti majalah lama, sehingga tidak terlalu menggunakan kertas warna yang baru dan mahal harganya. Bentuk dan ukuran potongan kertas warna bebas, dapat berupa potongan segi tiga, segi empat, bundar, atau yang lain, asalkan dalam satu pola atau karya gambar di gunakan bentuk potongan dan ukuran yang sejenis. Bahan perekatnya dapat menggunakan jenis lem apa saja, atau perekat apa saja sesuai dengan butir-butir atau potongan yang di tempelkan, seperti lem kanji, arabisgom, atau sejenis lilin untuk tempelan pada alan perkakas.
Fungsi dari Mozaik adalah :
1.     Fungsi praktis, yaitu fungsi pada benda sehari – hari, karya tersebut dapat digunakan sebagai bahan dekorasi.
2.     Fungsi edukatif, yaitu dapat membantu mengembangkan daya pikir, daya serap, emosi, estetika, dan kreativitas.
3.     Fungsi ekspresi, yaitu dengan menggunakan berbagai bahan dan tekstur dapat membantu melejitkan ekspresi.
4.     Fungsi psikhologis, yaitu dengan menuangkan ide, emosi yang menimbulkan rasa puas dan kesenangan sehingga dapat mengurangi beban psikhologis.
5.     Fungsi sosial, yaitu dapat menyediakan lapangan pekerjaan dengan banyaknya karya yang dimiliki diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan dengan modal kreatifitas.
Gambar 7. “Mozaik
(Karya: Sefiana Dewi Utami, 2016)







BAB 4
M3 (Melipat, Menggunting, Menempel)
1.     Melipat
Melipat adalah kegiatan menekuk kertas menjadi dua bagian atau lebih agar dihasilkan bentuk yang diinginkan.
2.     Menggunting
Menggunting adalah kegiatan memtong bahan menggunkan gunting sehingga menghasilkan potongan kertas dengan pinggiran yang rapi. Guntingan kertas yang dihasilkan dapat berbentuk lurus, zigzag dan bergelombang.
3.     Menempel
Menempel adalah egiatan menyatukan potongan-poongan kertas dengna menggunakan lem. Hasilny dapat berupa lukisan yang indah beraneka ragam[11].
Teknik melipat, menggunting dan menempel merupakan permainan kreasi bentuk yang menggunakan bahan kertas misalnya menggunakan kertas origami, HVS dan lebih baik menggunakan kertas yang berwarna sehingga membentuk karya yang lebih menarik.
Seni menggunting/memotong kertas ini dapat menghasilkan bentuk guntingan hiasan dengan menggunakan bahan kertas tipis seperti kertas tulis baik putih maupun berwarna. Hasil guntingan kertas hias dapat dipasang secara ditempel ataupun digantung. Karena pada dasarnya kegiatan jenis kerajianan tangan ini juga menggunakan tekhnik melipat, maka sering disebut juga istilah seni melipat dan menggunting kertas. Bahkan dalam penyelesainnya sering pula menggunakan rekatan.[12]
Langkah–langkah Kerja Menggunting
Kegiatan menggunting merupakan kegiatan kreatif yang menarik bagi anak-anak. Menggunting membutuhkan langkah kerja yang memudahkan anak untuk melakukannya. Secara umum prosedur kerja menggunting menurut Sumanto (2005: 109) adalah sebagai berikut:
a.     Tahap persiapan
Tahap persiapan ini dimulai dengan menentukan bentuk, ukuran dan warna kertas yang digunakan. Juga dipersiapkan bahan pembantu dan alat yang diperlukan sesuai model yang akan dibuat. Menentukan bentuk, ukuran, dan warna kertas yang digunakan dalam menggunting mempengaruhi tingkat kemudahan anak dalam melakukan menggunting. Warna kertas yang digunakan dalam menggunting memiliki warna yang menarik anak.
b.     Tahap pelaksanaan
Tahap pelaksanaan yaitu melakukan pemotongan kertas tahap demi tahap sesuai gambar pola (gambar kerja) dengan rapi sampai selesai baik secara langsung atau tidak langsung. Menggunting secara langsung yaitu menggunting lembaran kertas dengan alat gunting sesuai bentuk yang dibuat. Cara menggunting tidak langsung yaitu menggunting dengan melalui atau tahapan melipat terlebih dahulu pada lembaran kertas, baru dilakukan pengguntingan sesuai bentuk yang dibuat.
c.      Tahap penyelesaian.
Tahap penyelesaian, yaitu menempelkan hasil guntingan diatas bidang gambar. Hasil kegiatan menggunting anak ditempel pada buku hasil karya anak yang nantinya dapat ditunjukkan hasil karya mereka di depan kelas.
Kegiatan menggunting berdasarkan cara pembuatannya menurut Sumanto (2005: 111) dapat dibedakan yaitu:
a.     Menggunting secara langsung yaitu menggunting lembaran kertas dengan alat gunting sesuai bentuk yang dibuat.
b.     Menggunting secara tidak langsung yaitu menggunting dengan melalui atau tahapan melipat terlebih dahulu pada lembarankertas, baru dilakukan pengguntingan sesuai bentuk yang dibuat. Menggunting secara tidak langsung ini biasanya disebut teknik M3 (melipat, menggunting dan menempel).
Berikut ini jenis menggunting secara langsung dan tidak langsung di antaranya:
a.     Menggunting lurus secara langsung.
 



Pola
 




          Model rumah
b.  Menggunting lurus secara tidak langsung.
1)      Lipatan setengah, kertas dilipat satu kali dibagian tengah (pola setengah) kemudian digunting.
2)      Lipatan seperempat, caranya:
·     kertas bujur sangkar dilipat miring,
·     hasillipatan berbentuk segitiga kemudian dilipat satu kali lagi sampai dihasilkan bentuk segitiga yang besarnya seperempat dari kertas bujur sangkar. Selanjutnya digunting sesuai pola yang dibuat.
3)      Lipatan seperdelapan, caranya:
·     kertas bujur sangkar dilipat miring,
·     hasil lipatan berbentuk segitiga kemudian dilipat lagi dua kali sampai dihasilkan bentuk segitiga yang besarnya seperdelapan dari kertas bujur sangkar. Selanjutnya digunting sesuai pola yang dibuat.
4)  Lipatan rangkap atau bersusun, dibuat dengan menggunakan kertas empat persegi panjang, kemudian dilipat rangkap memanjang dan selanjutnya digunting dengan arah berlawanan.
c.   Menggunting lengkung secara langsung.
Menggunting lengkung secara langsung yaitu menggunting lembaran kertas dengan alat gunting secara langsung sesuai bentuk yang dibuat.
d.  Menggunting lengkung secara tidak langsung.
1)      Lipatan setengah, kertas dilipat ditengah kemudian digunting melengkung mengikuti pola.
 



Pola lipatan kertas               hasil guntingan
2)      Lipatan seperempat, kertas dilipat ditengah kemudian digunting melengkung mengikuti pola.
3)      Menggunting lengkung pada lipatan rangkai atau lipatan rangkap.[13]






Langkah-langkah mengerjakan seni melipat dan menggunting kertas:
a.     Seni menggunting kertas hiasan
1)    Kertas dilipat-lipat (dengan berbagaia cara), mendatar, tegak, menyudut, melintang, membujur, atau memusat.
2)    Lipatan kertas digunting untuk menghasilkan pola-pola hias.
3)    Lipatan yang digunting (dengan pola-pola tertentu) kemudian dibuka maka terwujudlah kertas hias yang bagus untuk ditempel ataupun digunting.
20160518_07061020160518_071117
Contoh model guntingan hias
b.     Seni menggunting bentuk model
1)    Mengenal dasar lipatan bentuk  untuk perencanaan model
2)    Menentukan dasar lipatan umtu dibentuk
3)    Membagan bentuk model sesaui dengan yang dikehendaki
4)    Menggunting lipatan kertas sesuai dengan yang modelnyaMelipat bagian-bagian guntingan pola sesuai dengan model bentuknya[14]
20160518_071713  20160518_071454
                                      Contoh Model bentuk guntingan
Menempel merupakan kegiatan lanjut dari menggunting.Menempel ini adalah kegiatan finishing dari kegiatan  3M, karena apabila proses penempelan ini telah dilakukan maka berakhirlah kegiatan 3M.
20160518_071013
Gambar 8. “M3”
(Karya: Sidratul Khasanah, 2016)



BAB 5
Origami & Clay
A.   Origami
Melipat kertas bagi anak-anak kita sebenarnya sudah menjadi salah satu kegiatan bermain yang biasa dilakukan sehari-hari. Sebagai kegiatan pembelajaran di sekolah kegiatan kerajinan tangan melipat kertas ini disamping mengisi suasana kesenangan, sambil bermain anak-anak dibina potensi kreativitasnya dan pengembangan rasa keindahannya.[15]
Kata origami berasal dari bahasa Jepang, dari kata oru yang berarti melipat dan kami berarti kertas. Penggabungan kata tersebut mengubah kata kami menjadi gami, sehingga bukan orikami tetapi origami, artinya sama yaitu melipat kertas.[16]
Meskipun origami lebih dikenal di Jepang, namun lahirnya origami berasal dari negeri Cina. Berawal dari kain perca serta aneka ragam tumbuh-tumbuhan, maka dibuatlah kertas yang nantinya digunakan sebagai bahan pembuatan origami. Baru pada abad 16, Origami berkembang di Spanyol, daratan Arab dan semakin populer di Jepang.[17]
Di Jepang origami diperkenalkan oleh seorang dokter pribadi kaisar Jepang, dr. Dokkyo. Ia mengenalkannya kepada Ratu Shotoku. Kemudian  Ratu tertarik untuk menghias kerajaan serta kuil dengan gantungan origami, sebagai simbol agama Shinto (agamanya orang Jepang). Bertepatan dengan bulan itu pula dirayakan Tanabana, Ratu meminta setiap orang wajib untuk membuat origami sebanyak mungkin untuk digantungkan pada pohon keberuntungan.[18]
Di Negeri Jepang kegiatan seni melipat kertas yang disebut origami ini  bahkan menjadi adat tradisional dalam ucapan-ucapan keagamaan. Origami ini bahannya kertas berbentuk bujur sangkar. Dalam menciptakan bentuk-bentuk benda menyerupai alat perkakas, kendaraan dan sebagainya, pelaksanaannya hanya dengan teknik lipatan tanpa tenik guntingan.[19]
Langkah-langkah mengerjakan seni melipat kertas:
1.     Bagi pemula lebih dahulu dianjurkan teknik dasar melipat kertas melalui pengenalan arah lipatan.
2.     Selanjutnya diperkenalkan membuat bentuk-bentuk dasar.
3.     Baru kemudian dibimbing membuat model-model bentuk dimulai dari yang sederhana berlanjut model bentuk yang lebih sulit.
4.     Bagi siswa-siswa tingkat atas, jika menggunakan diberi kesempatan berkreasi membuat model bentuk baru melalui mencoba-coba.[20]
Kombinasi-kombinasi dari lipatan-lipatan dasar ini membentuk dasar-dasar dari permulaan bentuk yang dapat digunakan untuk melipat berbagai model sehingga menjadi model yang kompleks.[21]
Gambar 9. “Origami”
(Karya: Dian Trimasari, 2016)

B.   Clay
Clay memiliki bentuk lentur mirip seperti adonan kue, jadi mudah untuk membentuk apapun dan memudahkan kita berkreasi. Clay mungkin nama yang belum begitu familiar dengan istilah tersebut. Atau bisa mengenal clay hanya sebatas sebagian mainan anak – anak dari lilin malam atau tanah liat, tetapi ternyata jenis clay beragam. Clay dapat dibentuk berbagai macam bentuk. Clay mempunyai struktur yang liat dan mudah dibentuk, selain itu clay juga akan mengeras jika didiamkan beberapa saat. Berikut beberapa jenis clay yang umum digunakan[22] :

1.     Lilin malam
Sebagai mainan anak – anak, lilin malam sangatlah lunak dan sangat mudah sekali dibentuk. Lilin malam akan mengeras bila didiamkan dalam waktu yang lama.
2.     Paper Clay
Paper clay dapat juga disebut fiber clay yang terbuat dari bahan dasar kertas. Cara pembuatannya percampuran antara kertas, air dan bahan gips.
3.     Clay Roti
Cara pembuatan clay roti ini yaitu dengan meremas – remas roti tawar sehingga menjadi remah – remah  (semakin kecil semakin baik) dengan menghilangkan dahulu bagian luar roti kemudian ditambah percampuran minyak benzoate atau pengawet agar bahannya bisa tahan lama dan tidak mudah berjamur.
4.     Clay Tepung
Cara pembuatan hampir sama dengan clay roti, namun tentu saja disini bahan utama yang digunakan adalah tepung. Tepung yang digunakan biasanya tepung tapioka dan lem putih dengan perbandingan 3:2. Setelah itu ditambahkan benzoate atau pengawet secukupnya. Campur semua adonan sampai tidak terasa lengket. Lalu secara berkala tambahkan baby oil untuk mempermudah proses pencampuran. Setelah semua adonan selesai baru ditambahkan dengan pewarna sesuai keinginan (cat air).
5.     Polymer Clay
Clay polymer tergolong clay yang mahal karena kualitasnya yang baik.  Clay jenis polimer masih tergolong langka di Indonesia. Beberapa macam clay polimer diantaranya FIMO, Sculpey, Cernit, Premo, ProSculpt, Creall-Therm, Modello/Formello modelene, dan Du-Kit.

6.     Jumping Clay
Biasa dijual dengan pembungkus alumunium foil, karena jika tanpa itu akan mengeras otomatis dan tidak bisa digunakan lagi. Biasanya digunakan untuk membuat boneka hewan atau miniatur manusia.
7.     Air Dry Clay/clay Jepang/clay Korea
Mirip dengan jumping clay, dijual dengan plastik kedap udara dan bisanya digunakan untuk membuat miniature sayuran dan buah – buahan.
8.     Clay Asli (tanh liat/keramik)
Jenis ini adalah asli dari alam, karena bersumber dari tanah liat yang kita berikan campuran.



BAB 6
Seni Kain Tradisional

Batik adalah sebuah teknik menghias permukaan tekstil dengan cara menahan pewarna. Teknik ini dijumpai di mana saja, di benua Afrika, Amerika, Asia dan Eropa, dan merupakan salah satu tahap pencapaian dalam peradaban manusia yang universal. Macam-macam teknik batik ikat antara lain:

A.   Batik Tritik
Kain tritik ialah menjelujur kain sesuai corak yang diinginkan. Sementara ada yang mengatakan bahwa istilah tritik berasal dari kata tarik. Seperti corak di daerah Solo-Yogya dikenal dengan nama untu walang, regulon, tapak dara, gadan dan lain-lain. Proses pembuatannya dengan cara menjelujur kain menjadi satu gumpalan menggunakan benang sehingga jelujuran tadi menjadi rapat. Setelah diberi warna dan benang dicabut akan didapat ragam hias berwarna putih sesuai jelujuran tadi. Jadi sebagai bahan perintang warna celup di sini adalah benang jelujuran.
Mulanya kain tritik hanya mempunyai satu warna latar, yaitu biru tua atau hitam dan merah mengkudu. Kemudian mengalami perkembangan, yaitu bagian-bagian diantara corak tritik – pinggiran, badan dan tengahan di beri warna yang kontras, warna cerah atau lembut dipadu dengan warna gelap atau tua. Tengahan ini dapat berbentuk persegi empat, wajik atau bulat. Warna cerah dan lembut untuk pertama kalinya diperoleh dengan memakai cat celup sintetis analine. Ada sementara anggapan, warna-warna ini mengingatkan pada cerahnya warna kembang, oleh sebab itu kain tersebut disebut pula dengan istilah kain kembangan. Pemberian nama kain tersebut di atas dapat berdasarkan teknik pembuatannya (kain tritik, kain jumputan) atau berdasarkan warna warninya (kain kembangan) dan dapat pula berdasarkan perpaduan warnanya (bangun tulak, pare anom dan lain-lain).[23]

B.   Batik Sasirangan
Kata “Sasirangan” berasal dari kata sirang (bahasa setempat) yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah bahasa jahit menjahit dismoke/dijelujur. Kalau di Jawa disebut jumputan. Kain sasirangan sekarang dibuat dengan memakai berbagai macam bahan kain yang dijahit dengantangan. Kemudian disapu dengan bermacam-macam warna yang diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang bercorak aneka warna dengan garis-garis atau motif yang menawan.
Kain sasirangan yang merupakan kerajinan khas daerah Kalimantan Selatan (Kalsel) menurut para tetua masyarakat setempat, dulunya digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga sebagai sabuk dipakai kaum lelaki serta sebagai selendang,  kerudung, atau udat (kemben) oleh kaum wanita. Kain ini juga sebagai pakaian adat dipakai pada upacara-upacara adat, bahkan digunakan pada pengobatan orang sakit. Tapi saat ini, kain sasirangan peruntukannya tidak lagi untuk spiritual sudah menjadi pakaian untuk kegiatan sehari-hari, dan merupakan ciri khas sandang dari Kalsel.[24]



C.   Batik Pelangi
Kain pelangi atau kain jumputan merupakan produk kerajinan tenun yang diciptakan dengan teknik tie dan dye. Di Indonesia sendiri, stilah tie dye seperti jarang digunakan karena sebagian masyarakat lebih sering menyebutnya dengan nama kain jumputan atau kain tenun ikat. Meski dibuat melalui serangkaian proses yang sama namun corak antara kain yang satu dengan lembaran lainnya bisa dipastikan tidak ada yang serupa. Oleh sebab itulah kainjumputan yang terkesan eksklusif menjadi sangat terkenal dan dikagumi oleh banyak orang.
Teknik tie dye diduga berasal dari seni bandhu yang usianya hampir sama dengan negeri India. Sedangkan para arkeolog menyebutkan bahwa tie dye sudah ada sejak 500 tahun yang lalu di Mesopotamia, India, Peru, Mexico, Yunani, dan juga di Roma. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya sebuah mummi dari tahun 1000 SM di Mesir yang dibalut dengan kain unik menyerupai kain jumputan. Kain tersebut diduga kuat berasal dari India dan menyebar  hingga ke Mesir.
Bukti lain dari keberadaan teknik tie dye tertera pada Prasasti Sima yang dibuat pada abad ke-10. Prasasti tersebut menunjukan bahwa di Indonesia telah berkembang dengan pesat teknologi pembuatan kain yang memiliki pola hias seperti tie dye atau jumputan. Hanya saja istilah yang digunakan oleh masyarakat untuk menyebut kain tersebut berbeda-beda. Masyarakat Palembang menyebut kain tie dye dengan istilah kain pelangi, masyarakat Banjarmasin menyebutnya dengan nama Sasirangan, sedangkan masyarakat Jawa menggunakan istilah tritik untuk mendifinisikan kain yang sama.
Kepopuleran teknik tie dye menjadi semakin meningkat ketika kaum hippies Amerika sering mengenakan busana yang dibuat dengan teknik tersebut pada akhir tahun 70-an. Motif-motif yang ditampilkan sebagian besar memuat nilai kehidupan dan kebebasan yang terinspirasi dari sejarah perang nuklir 50-an. Di Indonesia sendiri, pengembangan kain ikat atau jumputan dipelopori oleh Ghea Sukasah Panggabean dan Carmanita Mambu. Kain yang diidentikan dengan kain tradisional ini pada awalnya dibuat dengan bahan pewarna alami yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Namun seiring dengan perkembangan dunia mode, teknik tie dye mulai memodifikasi menjadi sebuah teknik modern yang dapat diaplikasikan pada berbagai produk fashion seperti kaos, rompi, jaket, jeans, legging, dan aksesoris. Meskipun teknik celup ikat dapat diterapkan pada berbagai macam jenis kain, namun kain berbahan sutra atau katun tetap menjadi pilihan terbaik untuk mendapatkan hasil yang maksimal.[25]
Kain pelangi merupakan kain jumputan dengan tata warna dan ragam hias yang lebih berfariasi. Asal mula kain pelangi didapat karena keanekaragamaan warnanya. Di jawa tengan kain pelangi disebut kain plangi. Menurut cerita kata pelagi berasal dari kata plong yang dalam bahasa jawa yaitu berarti lega atau kosong pada bidang putih. Proses pembuatan kain pelangi lebih rumit dan dibagi 2 tahap. Tahap pertama, proses sama dengan kain jumputan. Kain di ikat dengan tali besar. Tahap kedua, bidang putih yang tidak terkena ubar diwarnai (diisi) dengan coretan kuas. Corak dan warna dikuas sesuai selera.[26]

D.   Batik Jumputan
Cara pada teknik hias jumputan ini adalah dengan mengikat kain sesuai dengan pola yang diinginkan, lalu mencelupkannya kedalam pewarna. Kain yang diikat ketika dicelupkan kedalam pewarna, tidak akan menyerap pewarna karena terhalang tali. Untuk menghalangi pewarna.
Dalam membuat batik jumputan, ada 2 pewarna yang biasa dipakai. Ada pewarna buatan atau kimiawi, ada juga pewarna alami yang diolah. Sedangkan pewarna alam dapat dari berbagai macam bahan. Misalnya, warna biru bisa didapatkan dari buah dan kulit pohon tarum. Warna coklat dapat dibuat dari pohon soga. Getah pohon pisang, getah daun sirih, dan air teh basi juga bisa dijadikan pewarna.[27]
IMG_20160512_064050 - Copy
Gambar 10. ”Batik Jumputan”
(Karya: Annisa Rachmadyana, 2016)
IMG-20160522-WA0003-1
Gambar 11. “Batik Pelangi”
(Karya: Nila Firdayanti, 2016)
IMG-20160522-WA0000
Gambar 12. “Batik Tritik”
(Karya : Dian Trimasari, 2016)
IMG_20160525_155159

Gambar 13. “Batik Sasirangan”
(Karya: Niken Kurniawati, 2016)



BAB 7 Puzzle
1.     Pengertian Puzzle
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia puzzle adalah “teka-teki”.[28] Menurut Hamalik, gambar adalah sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua dimensi sebagai curahan perasaan dan pikiran.[29]
Menurut Patmonodewo kata puzzle berasal dari bahasa inggris yang berarti teka-teki atau bongkar pasang, media puzzle merupakan media sederhana yang dimainkan dengan bongkar pasang. Puzzle secara bahasa Indonesia diartikan sebagai tebakan. maka dapat disimpulkan bahwa game puzzle merupakan permainan edukatif yang dapat merangsang kemampuan dan ketrampilan Kognitif anak, yang dimainkan dengan cara membongkar pasang kepingan puzzle berdasarkan pasangannya.[30]
Kegiatan sentra puzzle ini dapat dirangkai dengan potongan jumlah yang sesuai dengan usia anak. Misalnya pada usia 2-3 tahun, potongan puzzlenya tidak kurang dari 4 biji; usia 3-4 tahun potongan puzzlenya tidak lebih dari 5 biji, untuk anak TK (4-5) tahun potongan puzzlenya tidak lebih dari enam biji dan untuk SD keatas potongan puzzlenya tidak lebih dari tujuh biji. Seperti  sentra-sentra lainnya sentra puzzle pun bisa dikemas sedemikian rupa, oleh karena itu semua kecerdasan anak terealisasikan dengan baik. Misalnya di puzzle tersebut diberi gambar orang yang sedang solat (untuk mencerdaskan daya spiritualisasinya anak), dimainkan oleh dua anak (untuk mengasah daya emosi-sosial dan interpersonal), jika permainan puzzle ini jika dilakukan oleh anak-anak maka akan mengasah daya kompetitif anak dan lain-lain.
Berdasarkan pengertian tentang media puzzle, maka dapat disimpulkan bahwa media puzzle merupakan alat permainan edukatif yang dapat merangsang kemampuan matematika anak, yang dimainkan dengan cara membongkar pasang kepingan puzzle berdasarkan pasangannya.
2.     Manfaat Puzzle bagi AUD
a.     Meningkatkan Keterampilan Kognitif. Keterampilan kognitif (cognitive skill) berkaitan dengan kemampuan untuk belajar dan memecahkan masalah. Puzzle adalah permainan yang menarik bagi anak karena anak pada dasarnya menyukai bentuk gambar dan warna yang menarik. Hal ini tentunya akan berkaitan dengan peningkatan kemampuan belajar dan juga dalam memecahkan masalah. Berinteraksi dan berdiskusi sangat mungkin terjadi saat anak berusaha memecahkan puzzle miliknya.
b.    Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus. Keterampilan motorik halus (fine motor skill) berkaitan dengan kemampuan anak menggunakan otot-otot kecilnya khususnya tangan dan jari-jari tangan. Anak balita khususnya anak berusia kurang dari tiga tahun (batita) direkomendasikan banyak mendapatkan latihan keterampilan motorik halus. Dengan bermain puzzle tanpa disadari anak akan belajar secara aktif menggunakan jari-jari tangannya.[31]
c.      Meningkatkan Keterampilan Sosial. Keterampilan sosial berkaitan dengan kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Puzzle dapat dimainkan secara perorangan. Namun puzzle dapat pula dimainkan secara kelompok. Permainan yang dilakukan oleh anak-anak secara kelompok akan meningkatkan interaksi sosial anak. Dalam kelompok anak akan saling menghargai, saling membantu dan berdiskusi satu sama lain. Jika anak bermain puzzle di rumah orang tua dapat menemani anak untuk berdiskusi menyelesaikan puzzlenya, tetapi sebaiknya orangtua hanya memberikan arahan kepada anak dan tidak terlibat secara aktif membantu anak menyusun puzzle.
d.    Melatih koordinasi mata dan tangan. Anak belajar mencocokkan keeping-keping puzzle dan menyusunnya menjadi satu gambar. Ini langkah penting menuju pengembangan ketrampilan membaca.
e.      Melatih logika. Membantu melatih logika anak. Misalnya puzzle bergambar manusia. Anak dilatih menyimpulkan dimana letak kepala, tangan, dan kaki sesuai logika.
f.      Melatih kesabaran. Bermain puzzle membutuhkan ketekunan, kesabaran dan memerlukan waktu untuk berfikir dalam menyelesaikan tantangan.[32]
3.     Proses Pembuatan Puzzle
a.     Menyediakan bahan dan alat
Bahan yang digunakan:
·        Majalah atau media gambar yang dapat digunakan untuk puzzle
·        Kertas karton
·        Kertas Samson
·        Lem FOX.
Alat yang digunakan: Gunting, Cutter, Pensil/spidol, Penghapus, Kuas no 12, Tempat lem/mangkuk kecil, Penggaris plastik dan penggaris besi.
b.     Membuat bingkai dari kertas karton
1)    Memotong gambar yang digunakan pada puzzle (gambar buataan sendiri atau gambar jadi)
2)    Mengukur kertas dari gambar
3)    Memotong kertas karton sesuai dengan gambar yang digunakan untuk puzzle pada bagian tengah
4)    Mengukur kertas samson sesuai pola pada kertas karton
5)    Menggunting kertas samson sesuai dengan pola bagian tengah
6)    Pada sisi bagian tengah kertas samson diberi sisa sebanyak 1-1,5 cm kemudian pada sisa kertas tersebut dilipat  dan diberi lem
7)    Kemudian kertas karton diberi lem dan  diletakkan pada kertas samson, kertas samson yang diberi sisa 1-1,5 cm dilipat untuk melapisi kertas karton dilipatkan ke dalam dan dilem
8)    Setelah jadi bingkai bagian depan kemudian gambar yang diambil dari majalah diletakkan pada kertas karton yang telah diambil dari bagian tengahnya yaitu dengan di lem keseluruhan kertas karton dan gambar.
9)    Gambar dari majalah  dipola kemudian pola tersebut digunting pada bagian depan.
10)  Pada bagian belakang, kertas samson dilem penuh untuk melapisi kertas karton dengan diberi sisa dari kertas samson agar dapat merapikan kertas bagian belakang.
11)  Kemudian dari kertas tersebut maka pada bingkai atau bagian kertas di lem dengan kertas bagian bawah menjadi bingkai
12)  Gambar yang telah dipotong kecil – kecil kemudian disusun menjadi gambar secara utuh.










                             Gambar 14. “Puzzle”
                         (Karya: Nuraini Ipmawati, 2016)


REFERENSI

Affandi. 2006.Seni menggambar dan kerajinan tangan. Yogyakarta :  PGTKI press
Bahari, Nooryan. 2008. Kritik Seni. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Febriana, Putri. 2006.38 Kreasi dari Barang Bekas. Jakarta: Cikal Aksara
FPBS-Univ. PendidikanIndonesia.2005. Seni Rupa dan Kerajinan. Bandung
Hamalik, Oemar. 1994. Media Pendidikan. Bandung: Cita Aditya bakti
Indriyani, Fitria Indriyani.Peningkatan Keterampilan Motorik Halus melalui Kegiatan Menggunting Dengan Berbagai MediaAnak Usia Dini Di Kelompok A Tk Aba GendinganKecamatan Kalasan Kabupaten Slemanyogyakarta. Skripsi : 2014
Kamus Bahasa Indonesia. (2003). Kamus Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta Balai Pustaka
Nurhadiat, Dedi. 2008.Seni Budaya dan Keterampilan 5. Jakarta: PT Grasindo
Pamadhi, Hajar. 2012.Pendidikan Seni (Hakikat Kurikulum Pendidikan Seni, Habitus Seni, dan Pengajaran Seni Anak). Yogyakarta : UNY Press
Suciaty, A.al-Aziz. 2010.Ragam Latihan Khusus Asah Ketajaman Otak
Anak Plus Melejitkan Daya Ingatnya. Yogyakarta : Mitra Media
         Tarjo, Enday dkk.“ Seni Rupa dan Kerajinan”, (Bandung : FPBS-Universitas Pendidikan Indonesia)
Tedjasaputra, Mayke S. 2001. Bermain, Mainan Dan Permainan. Jakarta: Grasindo
Wartono, Teguh. 1984. Pengantar pendidikan seni rupa 2. Yogyakarta : Kanisius





[1] Dr.Nooryan Bahari,M.Sn. Kritik Seni. 2008. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Hlm.51
[4]Dr.Nooryan Bahari,M.Sn. Kritik Seni. 2008. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Hlm.81
[5] Dr.Nooryan Bahari,M.Sn. Kritik Seni. 2008. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Hlm.81
[6] Dr.Nooryan Bahari,M.Sn. Kritik Seni. 2008. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Hlm.84
[7] Dr.Nooryan Bahari,M.Sn. Kritik Seni. 2008. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Hlm.86
[8] Teguh Wartono, Pengantar pendidikan seni rupa 2, (Yogyakarta:Kanisius,1984), hlm. 7-8
                [9]FPBS-Univ. PendidikanIndonesia. Seni Rupa dan Kerajinan. Bandung. 2005. hal 55-57
                [10] Enday Tarjo,dkk “ Seni Rupa dan Kerajinan”, (Bandung : FPBS-Universitas Pendidikan Indonesia). hlm. 55-58
[11] Febriana, Putri, 38 Kreasi dari Barang Bekas (Jakarta: Cikal Aksara 2012) ,. hal 3.
[12]Afandi Hm, Seni Menggamba Dan Kerajianan Tangan, (Yogyakarta: PGTKI Press 2006),. hal 29.
[13]Fitria Indriyani, Peningkatan Keterampilan Motorik Halusmelalui Kegiatan Menggunting Dengan Berbagai MediaAnak Usia Dini Di Kelompok A Tk Aba GendinganKecamatan Kalasan Kabupaten Slemanyogyakarta., (Skripsi:2014)., hal 25-27.
[14]Afandi Hm, Seni Menggamba Dan Kerajianan Tangan, (Yogyakarta: PGTKI Press 2006),. hal 29-30
[15] Drs. H.M. Affandi, Seni Menggambar & Kerajinan Tanagan, (Yogyakarta : PGTKI Press Yogyakarta 2006), hal 26
[17] ibid
[18] ibid
[19] Drs. H.M. Affandi, Seni Menggambar & Kerajinan Tanagan, (Yogyakarta : PGTKI Press Yogyakarta 2006), hal 26
[20] Drs. H.M. Affandi, Seni Menggambar & Kerajinan Tanagan, (Yogyakarta : PGTKI Press Yogyakarta 2006), hal 27
[23]https://jeashafidzh.wordpress.com/2014/10/13/tugas-tekpro-tekstil-batik-tritik-dan-tapestri/
[24]http://asj58.blogspot.co.id/2013/05/pengertian-batik-jumput-tritik-dan.html?m=1
[25]https://fitinline.com/index.php?/article/read/sejarah-kain-jumputan-di-indonesia
[26]Kursusjahityogya.blogspot.com/2015/08/komentarteknikmembuatmotifyangdigunakandiberbagaidaerahdinusantara.html                       
[27] Dedi Nurhadiat. Seni Budaya dan Keterampilan 5 (Jakarta: PT Grasindo, 2008). Hal. 7-8
[28]Kamus Bahasa Indonesia. (2003). Kamus Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta BalaiPustaka hlm : 352
[29]Hamalik, Oemar. Media Pendidikan. (Bandung: Cita Aditya bakti 1994). Hlm : 57
[30]Muchammad Abdulloh. Artikel Puzzle. http://aaps10.blogspot.com/2012/11/puzzle.html ( DiAkses 17 Mei 2016 .
[31]Mayke S. Tedjasaputra,. Bermain, Mainan Dan Permainan. (Jakarta : Grasindo 2001) Hlm: 40.

[32]A. Suciaty al-Aziz, Ragam Latihan Khusus Asah Ketajaman Otak Anak Plus Melejitkan Daya Ingatnya. (Yogyakarta : Mitra Media 2010) Hlm: 78-80


Tidak ada komentar:

Posting Komentar