BAB II
KAJIAN TEORI
A.
Pengertian
Pertumbuhan dan Perkembangan
Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencangkup dua
peristiwa yang sifatnya berbeda, akan tetapi saling berkaitan dan sulit di
pisahkan yaitu perkembang dan petumbuhan[1].
Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah
perubahan dalam besar jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun
individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran
panjang (cm,meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan
nitrogen tubuh) sedangkan perkembangan (development) adalah bertambahnya
kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam
pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.[2]
Pertumbuhan adalah bertambah banyak dan besarnya sel
seluruh bagian tubuh yang bersifat kuantitatif dan dapat diukur, sedangkan
perkembangan adalah bertambah sempurnanya fungsi dari alat
tubuh, pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah
ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, perkembangan lebih
menitikberatkan aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ atau
individu, termasuk perubahan aspek sosial atau emosional akibat pengaruh
lingkungan, pertumbuhan dan perkembangan memiliki makna yang berbeda akan
tetapi kedunnya tidak dapat dipisahkan, pertumbuhan menunjukkan arti perubahan
kuantitatif. Pertambahan dalam ukuran dan struktur.
Sedangkan, perkembangan menujukkan perubahan
kuantitaif dan kualitatif sehingga dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan
mempunyai dampak terhadap aspek fisik, sedangkan perkembangan berkaitan dengan
pematangan fungsi organ / individu. Walaupun demikian, kedua peristiwa itu
terjadi secara sinkron pada setiap individu.[3]
B.
Ciri-ciri
Pertumbuhan dan Perkembangan
Tumbuh
kembang anak yang sudah dimulai sejak konsepsi sampai dewasa itu mempunyai
ciri-ciri tersendiri, yaitu:[4]
1.
Tumbuh kembang adalah proses yang
kontinu sejak dari konsepsi sampai maturitas/dewasa, yang dipengaruhi oleh
faktor bawaan dan lingkungan.
2.
Terdapat masa percepatan dan masa
perlambatan, serta laju tumbuh kembang yang berlainan organ-organ.
3.
Pola perkembangan anak adalah sama
pada semua anak,tetapi kecepatannya berbeda antara anak satu dengan lainnya.
4.
Perkembangan erat hubungannya dengan
maturasi sistem susunan saraf
5.
Aktifitas seluruh tubuh diganti
respon individu yang khas
6.
Arah perkembangan anak adalah
sefalokaudal.
Yang perlu di ingat mengenai pertumbuhan dan
perkembangan anak adalah setiap anak adalah individu yang unik, karean adanya
faktor bawaan dan lingkungan yang berbeda, maka pertumbuhan dan pemcapaiannya
kemampuan dalam nerkembangnya juga berbeda. Tetapi akan tetap menuruti
patokan umum.
C.
Prinsip
pertumbuhan dan perkembangan
Untuk memahami anak usia dini lebih mendalam, orang
tua, guru maupun pemerhati perlu mempunyai gambaran yang tepat mengenai
prinsip-prinsip dan pola perkembangan anak usia dini dan kebutuhan -kebutuhan
seperti kebutuhan jasmani, kebutuhan sosial, kebutuhan psikologi ini merupakan
kebutuhan dasar dalam perkembangan anak usia dini. Jika kebutuhan-kebutuhan ini
tidak terpenuhi secara memadai akan sangat mempengaruhi keutuhan perkembangan
diri anak dimasa remaja dan dewasa. Orang tua, guru dan para pemerhati
pendidikan juga harus memahaminya untuk mengetahui dengan mudah kebutuhan–kebutuhan
yang diperlukan anak usia dini, pengetahuan tersebut sangat penting sehingga
orang tua dan guru tidak mengharapakan sesuatu yang berlebihan kepada anak.
Prinsip-prinsip perkembangan adalah pola-pola umum
dalam suatu proses perubahan alamiah yang teratur, universal dan
berkesinambungan, yang dimaksud dengan perubahan yang teratur adalah
pertumbuhan pada manusia yang berjalan normal mengikuti tata urutan yang saling
berkaitan. Prinsip dasar pertumbuhan dan perkembangan adalah sebagai berikut :[5]
1.
Perkembangan merupakan hal yang
teratur dan mengikuti rangkaian tertentu.
2.
Perkembangan merupakan sesuatu yang
terarah dan berlangsung terus dalan carasebagai berikut :
a.
cephalocaudal, pertumbuhan
berlangsung dari kepala ke arah bawah dari bagian tubuh
b.
Proximosdital, perkembangan
berlangsung terus dari daerah pusat (proksimal) tubuh ke arah luar.
c.
Differantiation, ketika perkembangan
berlangsung terus dari hal yang mudah kearah yang lebih kompleks.
3.
Perkembangan merupakan hal yang
komplek. Dapat diprediksi, terjadi dengan pola yang konsisten dan kronologis.
4.
Perkembangan merupakan hal yang unik
untuk individu dan untuk potensi genetik, dan setiap individu cenderung
untuk mencari potensi maksimum perkembangan
5.
Perkembangan terjadi melalui konflik
dan adptasi, dan aspek yang berbedaberkembang pada waktu yang berbeda,
menciptakan periode dari keseimbangan dan ketidakseimbangan.
6.
Perkembangan meliputi tantangan bagi
individu dalam bentuk tugas yang pasti sesuai umur kemampuan.
7.
Tugas perkembangan membutuhkan
praktik dan tenaga, fokus perkembangan ini berbeda sesuai dengan setiap
tahap perkembangan dan tugas yang dicapai.
D.
Kebutuhan
Dasar Anak
1.
ASUH (Kebutuhan Biomedis)
yaitu
menyangkut asupan gizi anak selama dalam kandungan dan sesudahnya, kebutuhan
akan tempat tinggal, pakaian yang layak dan aman, perawatan kesehatan dini
berupa imunisasi dan intervensi dini akan timbulnya gejala penyakit.
2.
ASIH (Kebutuhan emosianal)
yaitu
pemberian kasih sayang. Penting menimbulkan rasa aman (emotional security)
dengan kontak fisik dan psikis sedini mungkin dengan ibu. Kebutuhan anak akan
kasih sayang, diperhatikan dan dihargai, pengalaman baru, pujian, serta tanggung
jawab.
3.
ASAH (kebutuhan
akan stimulasi mental dini)
yaitu anak perlu distimulasi sejak dini untuk
mengembangkan sedini mungkin kemampuan sensorik, motorik, emosi-sosial, bicara,
kognitif, kemandirian, kreativitas, kepemimpinan, moral dan spiritual anak.
Asah
adalah stimulasi yang diberikan. Untuk pemenuhan kebutuhan asah (stimulasi),
meliputi upaya untuk melakukan stimulasi baik secara verbal maupun nonverbal.
Proses ini merupakan cikal bakal proses pembelajaran, pendidikan, dan pelatihan
yang diberikan sedini dan sesuai mungkin.[6]
Tujuan
stimulasi (Asah) Stimulasi anak usia dini (AUD) adalah kegiatan merangsang
secara memadai kemampuan dasar anak agar tumbuh dan berkembang optimal sesuai
potensi yang dimilikinya. Pemberian stimulasi/rangsangan (ASAH) juga perlu
diberikan sejak dini, stimulasi diberikan sesuai dengan tahapan usia si kecil.[7]
Stimulasi
adalah kegiatan merangsang dan melatih kemampuan anak yang berasal dari
lingkungan luar anak (orang tua atau pengasuhnya).
·
Tujuan stimulasi untuk
balita usia 0-1 tahun adalah agar mereka harus mengenal sumber suara dan
mencari objek yang tidak kelihatan, melatih kepekaan perabaan, koordinasi
mata-tangan dan mata- telinga.
·
Sedangkan untuk balita
usia 2-3 tahun stimulasi yang diperlukan adalah melatih mengembangkan
ketrampilan berbahasa, warna, mengembangkan kecerdasan dan daya imajinasi.
·
Tahapan balita usia 3-6
tahun adalah mengembangkan kemampuan perbedaan dan persamaan, berhitung,
menambah dan sportivitas. Stimulasi akan membuat sistem syaraf berfungsi dengan
baik. Tumbuh kembang otak manusia mencapai puncaknya saat balita mencapai usia
lima tahun. Selain bantuan stimulasi dan nutrisi, yang tidak kalah penting
adalah dukungan keluarga dalam mengoptimalkan stimulasi pada anak.
Pemberian stimulasi dan nutrisi pada
anak tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada pengasuh atau baby sitter.
Orangtua harus berperan aktif membina kebersamaan keluarga dan menciptakan
waktu berkualitas (quality time) dengan waktu yang sedikit namun dimanfaatkan
sebaik-baiknya. Hal itu bisa diterapkan dalam hal sederhana misalnya makan
bersama. Kesempatan itu dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan aneka ragam
makanan, nama dan warnanya kepada anak, serta mengajarkan ketrampilan makan.
Saat anak minum susu dapat dibarengi membacakan buku cerita atau menonton
televisi sambil menyelipkan pesan manfaat minum susu bagi anak. Usahakan
mendampingi anak dan bercakap-cakap saat menonton televisi. Ajak anak
berolahraga atau bermain mengenal alam dan lingkungannya pada akhir pekan. Kebersamaan
antar orang tua dan anak sangat dibutuhkan untuk menjalin komunikasi guna
memungkinkan pemberian stimulasi dan nutrisi yang tepat untuk anak. Kebutuhan
stimulasi atau upaya merangsang anak untuk memperkenalkan suatu pengetahuan
ataupun keterampilan baru ternyata sangat penting dalam peningkatan kecerdasan
anak. Stimulasi pada anak dapat dimulai sejak calon bayi berwujud janin, sebab
janin bukan merupakan makhluk yang pasif. Di dalam kandungan, janin sudah dapat
bernapas, menendang, menggeliat, bergerak, menelan, mengisap jempol, dan
lainnya.
Terdapat 4 aspek kemampuan dasar anak
yang perlu mendapatkan rangsangan yaitu: kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak
halus, kemampuan bicara dan berbahasa, serta kemampuan bersosialisasi (berinteraksi)
dan kemandirian.
1. Kemampuan
gerak kasar atau kemampuan motorik kasar adalah kemampuan anak melakukan
pergerakan dan sikap tubuh dengan melibatkan otot-otot besar, misal: kemampuan
berguling, tengkurap, berdiri dan berjalan.
2. Kemampuan
gerak halus atau kemampuan motorik halus adalah kemampuan anak melakukan
pergerakan bagian-bagian tubuh tertentu dengan melibatkan otot-otot kecil
tetapi memerlukan koordinasi yang cermat, misal: menjepit dengan jari-jari,
menulis, mengamati sesuatu.
3. Kemampuan
bicara dan bahasa adalah kemampuan anak mengungkapkan sesuatu melalui berbicara
dan berbahasa, memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah, dst.
4. Kemampuan
bersosialisasi (berinteraksi) adalah kemampuan anak bersosialisasi dan
berinteraksi dengan lingkungan dan orang-orang di sekelilingnya, dan
kemandirian adalah kemampuan melakukan sesuatu tanpa bantuan pihak lain atau
mandiri (makan dan minum sendiri, memakai pakaian sendiri, dst). Kemampuan
dasar lain yang juga perlu mendapatkan stimulasi adalah kemampuan kognitif, kreatifitas
dan moral-spiritual
Beberapa prinsip dasar dalam melakukan
stimulasi pada anak usia dini yang perlu diterapkan yaitu:[8]
1. Stimulasi
dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang terhadap anak.
2. Selalu
tunjukkan perilaku yang baik karena anak cenderung meniru tingkah laku
orang-orang terdekat dengannya.
3. Dunia
anak dunia bermain, karena itu stimulasi dilakukan dengan cara mengajak anak
bermain, bernyanyi dan variasi lain yang menyenangkan, tanpa paksaan dan
hukuman.
4. Berikan
stimulasi sesuai umur anak.
5. Stimulasi
dilakukan dengan cara-cara yang benar, secara bertahap dan berkelanjutan sesuai
umur anak.
6. Menggunakan
alat bantu/alat permainan yang sederhana, aman dan ada disekitar kita.
7. Anak
laki-laki dan perempuan diberikan kesempatan yang sama.
Dalam menstimulasi tumbuh kembang anak
ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, diantaranya adalah:[9]
1. Berikan
gizi dan makanan yang sesuai dengan masa pertumbuhan dan perkembangan pada
anak,yang sangat diperlukan terutama dalam memacu pertumbuhan fisik dan otak
pada anak.
2. Mencukupi
kebutuhan nutrisi seperti makanan yang banyak mengandung potein, vitamim B1,
B6, yodium, asam folat, seng, DHA, dsb.
3. Cukupi
ASI. Karena ASI menjadi kebutuhan paling fundamental dalam membantu tumbuh
kembang anak secara baik dan maksimal.
4. Pentingnya
melakukan stimulasi dini kepada anak.
Beberapa kategori yang harus diperhatikan
berdasarkan usia anak supaya hasil yang didapatkan bisa sesuai dengan yang
diinginkan, yakni:[10]
1. Usia
anak 0-3 bulan, bentuk stimulasi dilakukan dengan memeluk, menggendong,
mengajaknya tersenyum, berbicara, membunyikan suara seperti musik dan instrumen
musik, dipegangkan mainan, dsb.
2. Usia
anak 3-6 bulan, bisa diajak dengan melihat wajah ibunya sendiri,
ditengkurapkan, bolak-balik badannya dan duduk.
3. 6
– 9 bulan, bisa dengan memanggil namanya secara berulang-ulang, bertepuk
tangan, bersalaman, dan mendongeng.
4. Usia,
9-12 bulan, bisa dengan mengajarkannya memasukkan mainan ke dalam keranjang
atau menyebut nama mama dan papanya karena prinsipnya anak sudah mengerti apa
yang diperintahkan.
5. Usia
12-18 bulan, ajari berjalan mengelilingi rumah, berikan pensil warna untuk
mencorat-coret dan mulai mengenal warna-warni satu persatu.
6. Usia
18-24 bulan, ajak anak untuk bertanya anggota tubuhnya seperti telinga, mata,
tangan, hidung, mulut, dsb.
7. Usia
2-3 tahun, kondisi dimana ia sudah hampir bisa melakukan semua hal. Saatnya
bagi orang tua untuk mulai mengajarkan berbagai kata sifat sedih, gembira,
senang. Dsb.
8. Memberikan
ragam stimulasi kinestetik mulai usia 0 hingga 6 tahun.
Bentuk
stimulasi (asah) yang diberikan :[11]
1. Usia
0-1 tahun.
Di
usia 3-4 bulan kandungan, janin sudah menunjukkan gerakan tubuh pertamanya,
yang semakin bertambah sejalan dengan pertambahan usia kehamilan. Gerakan kedua
muncul saat bayi lahir, yaitu gerak refleks. Gerakan seperti mengisap puting
susu ibu, gerak refleks tangan dan kaki, mengangkat kepala saat ditengkurapkan,
dan membuka jari saat telapak tangannya disentuh, merupakan gerakan refleks
yang bertujuan untuk bertahan hidup, gerak refleks seharusnya distimulasi agar
kemampuan awal si kecil terbentuk.
Contohnya,
bila gerak refleks tangan distimulasi dengan baik, dalam usia 2-3 bulan, bayi
memiliki kemampuan menggenggam benda-benda yang berukuran besar. Stimulasi yang
bertahap dan berjenjang akan memberikan manfaat dalam kemampuan dan
keterampilan menggenggam pada bayi. Bayi akan mampu menggenggam benda-benda
yang lebih kecil hingga akhirnya bisa menggenggam sendok atau pensil warna.
Kemampuan
kinestetik lain yang mesti dimiliki bayi usia 3-6 bulan adalah merayap dan
merangkak. Kemampuan ini merupakan awal dari perkembangan bergerak maju, duduk,
berdiri, dan berjalan. Orangtua bisa menempatkan bola warna-warni di depan bayi
saat ia tengkurap. Warna-warni akan menarik bayi untuk mengambil dengan
berusaha bergerak maju. Setelah merangkak, anak akan belajar berjalan. Untuk
berjalan, diperlukan kekuatan otot kaki, punggung, perut, keseimbangan tubuh,
koordinasi mata-tangan-kaki, serta aspek mental, emosional, dan keberanian.
Dengan banyaknya aspek yang terlibat dalam proses berdiri dan berjalan, jumlah
sel otak yang terstimulasi pun bertambah banyak. Saat belajar berjalan, anak
mencoba merambat dan berdiri sambil berpegangan benda-benda yang kuat.[12]
2. Usia
1-2 tahun
Di
usia setahun, seluruh kemampuan dan keterampilan kinestetiknya sudah terbentuk.
Untuk itu, perlu diberikan pengembangan stimulasi dengan penambahan pada
bentuk, media, tingkat kesulitan, dan lainnya. Cara yang mudah adalah banyak
bermain bersama anak seperti berlari, melompat, melempar, menangkap, berguling,
dan lain-lain. Anak akan lebih mudah belajar melempar daripada menangkap. Agar
kemampuan anak menangkap bola atau benda bertambah, rajin-rajinlah orangtua
bermain lempar-tangkap bola. Dengan cara ini pula kemampuan koordinasi mata dan
tangan anak akan terlatih. Bila anak sudah mampu menangkap dan melempar,
tingkat kesulitannya bisa ditambah.
Contohnya,
menambah jarak lempar-tangkap, mengganti bola yang lebih besar dengan yang
kecil, serta arah lemparan semakin cepat. Teknik-teknik tersebut akan membantu
menguatkan otot-otot lengan anak serta mengembangkan keterampilan motorik halus
dan kasar, koordinasi mata-tangan, visual-spasial, kecepatan reaksi, dan
kelenturan. Kesemuanya, menurut Bambang, merupakan respon dari sel-sel otak.
Keterampilan motorik halus dan kasar berguna untuk kemampuan menulis,
menggambar, melukis, dan keterampilan tangan lainnya. Anak juga bisa dilatih
mengembangkan otot kaki, misalnya menendang bola, melompat dengan dua kaki,
serta menaiki anak tangga (tentu dibantu orang dewasa).
3. Usia
3-4 tahun
Anak
usia 3-4 tahun berlari lebih cepat ketimbang anak usia 1-2 tahun, lemparannya
lebih kencang, dan sudah mampu menangkap dengan baik. Kemampuan motorik kasar
otot kaki anak, selain berjalan dan berlari cepat, antara lain mampu melompat
dengan dua kaki, memanjat tali, menendang bola dengan kaki kanan dan kiri.
Untuk motorik kasar otot lengan, anak mampu melempar bola ke berbagai arah,
memanjat tali dengan tangan, mendorong kursi, dan lainnya. Kemampuan yang
melibatkan motorik halus untuk koordinasi mata-tangan, yaitu mampu
memantul-mantulkan bola beberapa kali, menangkap bola dengan diameter lebih
kecil, melambungkan balon, keterampilan coretan semakin baik.
Agar
kemampuan dan keterampilan motorik halus serta kasar kian berkembang, anak bisa
diberikan stimulasi kinestetik. Ia mencontohkan beberapa hal seperti berjalan
atau berlari zigzag, berjalan dan berlari mundur untuk mengembangkan otak
kanan, melompat dengan dua kaki ke berbagai arah, menendang bola dengan kaki
kanan atau kiri ke berbagai arah, melempar bola ke berbagai arah dengan bola
sedang sampai kecil, melempar bola ke sasaran seperti huruf, angka, atau
gambar, menangkap bola dari berbagai arah, bermain bulutangkis, mencoret-coret
berbagai bentuk geometri untuk mengembangkan otak kiri dan kanan, serta
menggerakkan kedua tangan dan kaki dengan memukul drum mainan.[13]
4. Usia
5-6 tahun
Pada
usia 5-6 tahun, hampir seluruh gerak kinestetiknya dapat dilakukan dengan
efisien dan efektif. Gerakannya pun sudah terkoordinasi dengan baik. Namun,
anak kelompok usia ini lebih menyukai permainan yang tidak banyak melibatkan
motorik kasar. Mereka lebih menyukai permainan yang menggunakan kemampuan
berpikir seperti bermain puzzle, balok, bongkar pasang mobil, serta mulai
tertarik pada games di komputer maupun play station.
Faktor
genetika memang mempengaruhi tingkat kecerdasan anak saat dilahirkan. Namun
kecerdasan saat anak beranjak dewasa juga ditentukan dari nutrisi dan stimulasi
yang diberikan oleh orang tua mereka. Kedua hal ini, yaitu nutrisi dan
stimulasi, bahkan paling berperan menentukan kecerdasan anak dalam masa
pertumbuhan.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Gupte, S. 2004. Ilmu Kebidanan.
Jakarta: Pustaka Populer Obor.
·
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Ilmu
Kesehatan Anak Untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika
·
Doenges dan Moorhouse. 2001. Rencana
Perawatan Maternal Bayi. Jakarta: EGC.
·
Rita
Izzati dkk. 2013. Perkembangan Peserta
Didik, Yogyakarta: UNY Press.
·
Hurlock,
Elizabeth. 1993. Psikologi Perkembangan:
Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta: Erlangga.
·
http://anisaharsimaya.blogspot.co.id/2013/10/asah-asih-dan-asuh.html. diunduh
pda tanggal 10 April 2016
·
http://lieliyen.blogspot.co.id/2012/10/makalah-stimulasi-tumbuh-kembang-bayi.html. diunduh pada 11 April 2016
[1]W.J.S.
Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka,
1976), Hal. 202
[2]Hidayat, A. Aziz Alimul, 2008. Ilmu
Kesehatan Anak Untuk Pendidikan Kebidanan. (Jakarta: Salemba Medika, 2008).
Hlm. 42.
[3] Ibid., hlm. 50.
[4] Rita Izzati dkk, Perkembangan
Peserta Didik, (Yogyakarta: UNY Press, 2013). Hlm. 45.
[5] Ibid., hlm. 46-50.
[7] Ibid., hlm. 68.
[8] http://anisaharsimaya.blogspot.co.id/2013/10/asah-asih-dan-asuh.html.
diunduh pada tanggal 10 April 2016
[9] http://lieliyen.blogspot.co.id/2012/10/makalah-stimulasi-tumbuh-kembang-bayi.html. diunduh pada 11 April 2016
[11]Hidayat, A. Aziz Alimul, 2008. Ilmu
Kesehatan Anak Untuk Pendidikan Kebidanan. (Jakarta: Salemba Medika, 2008).
Hlm. 47.
[12]Doenges dan
Moorhouse. Rencana Perawatan Maternal
Bayi. (Jakarta: EGC, 2001). Hlm. 42.
[13]Hurlock, Elizabeth, Psikologi
Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Jakarta:
Erlangga, 1993). Hlm. 76.