PENILAIAN
STATUS GIZI ANTROPOMETRI
Makalah
ini disusun guna memenuhi tugas
Mata
Kuliah: Kesehatan dan Gizi Anak
Dosen
Pengampu: Yudha Febrianta, S.Pd Jas, M. Or.
Disusun Oleh:
Nuraini Ipmawati
NIM: 13430017
PRODI PENDIDIKAN GURU ROUDHOTUL ATHFAL
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kehadirat Allah SWT
yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, hidayah, serta inayah-Nya sehingga
makalah dengan judul: Penilaian Status Gizi Antropometri dapat terselesaikan tanpa mengalami hambatan
yang begitu berarti. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas Individu mata kuliah Kesehatan
dan Gizi Anak.
Dalam penulisan makalah ini, penulis
mendapatkan bantuan ataupun masukan dari berbagai pihak, sehingga makalah ini
dapat terealisasikan. Untuk itu penulis menyampaikan rasa terima kasih
setinggi-tingginya kepada Bapak Yudha Febrianta selaku dosen pengampu mata kuliah Kesehatan
dan Gizi Anak.
Akhirnya kami menyadari bahwa penyusunan
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dalam arti sebenarnya. Namun dalam
proses laporan ini segala do’a dan usaha yang telah kami lakukan, walau hasil
akhir menjadi target dan kami tidak akan menutup mata serta telinga apabila
terdapat kekurangan dan kekhilafan, karena kami insan biasa.
Yogyakarta, 25 Maret 2016
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR......................................................................................... 2
DAFTAR ISI............................................................................................................... 3
BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................... 4
A. Latar belakang Masalah.................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah............................................................................................. 4
BAB
II PEMBAHASAN............................................................................................ 5
A.
Penilaian
Status Gizi........................................................................................ 5
B.
Penilaian
Status Gizi Antropometri................................................................. 6
C. Jenis Parameter................................................................................................. 8
D.
Indeks
Antropometri...................................................................................... 16
E.
Keunggulan
dan Kelemahan Antropometri................................................... 22
F.
Klasifikasi
Status Gizi ................................................................................... 23
G. Faktor yang mempengaruhi status gizi........................................................... 24
BAB III PENUTUP.................................................................................................. 27
A. Kesimpulan dan Saran.................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 28
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang Masalah.
Status gizi
adalah keadaan kesehatan akibat interaksi antara makanan, tubuh manusia dan
lingkungan hidup manusia. hal yang paling penting dalam kehidupan manusia
adalah meningkatkan perhatian terhadap kesehatan guna mencegah terjadinya
mallnutrisi (gizi salah) dan resiko untuk menjadi gizi kurang. Status gizi
menjadi penting karena merupakan salah satu faktor resiko untuk terjadi
kesakitan atau kematian. Status gizi yang baik pada seseorang akan
berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses
pemulihan.
Peran dan
kedudukan penilaian status gizi didalam ilmu gizi adalah untuk mengetahui
status gizi, yaitu ada tidaknya malnutrisi pada individu dan masyarakat. Metode
penilaian status gizi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: penilaian
dengan melihat tanda klinis, tes laporatorium, metode biofisik, dan
antropometri. Penggunaan metode antropometri merupakan metode relatif mudah,
karena dengan metode ini penilaian bisa dilakukan secara langsung dengan
berbagai jenis parameter yaitu berat badan, tinggi badan dsb. Oleh karena itu
penulis akan mengupas beberapa cara menggunakan penilaian status gizi dengan metode
antropometri.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa yang
dimaksud dengan penilaian status gizi antropometri?
2. Apa saja
parameter yang digunakan dalam penilaian status gizi antropometri?
3. Bagaimana
cara menggunakan penilaian status gizi dengan metode antropometri?
4. Apa saja
keuntungan dan kelemahan dari metode antropometri?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Penilaian Status Gizi
Status gizi
adalah keadaan tubuh sebagai akibat interaksi antara asupan energi dan protein
serta zat-zat gizi esensial lainnya dengan keadaan kesehatan tubuh. Status gizi
adalah kondisi tubuh sebagai akibat penyerapan zat-zat gizi esensial. Status
gizi merupakan ekspresi dari keseimbangan zat gizi dengan kebutuhan tubuh, yang
diwujudkan dalam bentuk variabel
tertentu.[1]
Ketidakseimbangan (kelebihan atau kekurangan) antara zat gizi dengan kebutuhan
tubuh akan menyebabkan kelainan patologi bagi tubuh manusia. Keadaan demikian
disebut malnutrition (gizi salah atau kelainan gizi).
Secara umum,
bentuk kelainan gizi digolongkan menjadi 2 yaitu overnutrition (kelebihan gizi)
dan under nutrition (kekurangan gizi). Overnutrition adalah suatu keadaan tubuh
akibat mengkonsumsi zat-zat gizi
tertentu melebihi kebutuhan tubuh dalam waktu
yang relative lama. Undernutrition adalah keadaan tubuh yang disebabkan oleh
asupan zat gizi sehari-hari yang kurang sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan
tubuh[2].
Adequate
food intake and good physical activity are required pearson to maintain stable
nutritional status. Factor that affect to nutritional status are energy
intake, protein and physical activity. Oral health status and dietary intake
contribute to nutritional status in elderly. Missing teeth cause chewing
disorder that reduces quality and quantity of food intake, which finally makes
the elderly have underweight nutritional status.[3]
Secara umum,
status gizi dapat dikatakan sebagai fungsi kesenjangan gizi, yaitu selisih
antara konsumsi zat gizi dengan kebutuhan zat gizi tersebut. Kesenjangan gizi
bermanifestasi menurut tingkatannya, sebagai berikut:
a.
Mobilisasi cadangan zat gizi, yaitu
upaya menutup kesenjangan yang masih kecil dengan menggunakan cadangan gizi
dalam tubuh
b.
Deplesi jaringan tubuh yang terjadi
jika kesenjangan tersebut tidak dapat
ditutupi dengan pemakaian cadangan
c.
Perubahan biokimia, suatu kelaian
yang terlihat dalam cairan tubuh
d.
Perubahan fungsional, yaitu
kelaianan yang terjadi dalam tata kerja faali
e.
Perubahan anatomi. Suatu perubahan
yang bersifat lebih menetap[4].
Metode
penilaian status gizi dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat perkembangan
kekurangan gizi, yaitu metode konsumsi, metode laboratorium, metode
antropometri dan metode klinik[5].
Menurut
Supariasa[6],
penentuan status gizi dapat dikelompokkan dalam metode langsung dan metode
tidak langsung. Metode penilaian status gizi secara langsung
meliputi metode biokimia, antropometri, klinik dan biofisik. Sedangkan metode
tidak langsung adalah metode konsumsi makanan, statistik vital dan faktor-faktor
ekologi.
B.
Penilaian Status Gizi Antropometri
Antropometri
berasal dari kata anthropos dan metros. Anthropos adalah tubuh dan metros
adalah ukuran. Jadi antropometri adalah ukuran dari tubuh. Pengertian dari
sudut pandang gizi, telah banyak diungkapkan oleh para ahli. Jelliffe
mengungkan bahwa:
“nutrisional
Anthropometry is measurement of the variations of the physical dimensions and
the gross composition of the human body at different age levels and degree of
nutrisions.”[7]
Antropometri
sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai
ketidakseimbangan antara asupan protein dan energy. Gangguan ini biasanya
terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jringan tubuh seperti lemak,
otot dan jumlah air dalam tubuh.
Pengkuran Antropometri adalah pengukuran terhadap dimensi tubuh dab
komposisi tubuh. Ada beberapa pengukuran antropometri utama.[8]
Untuk jelasnya dapat dilihat pada
table berikut.[9]
|
Pengukuran
|
Komponen
|
Jaringan utama yang diukur
|
|
Stature/
Tinggi badan
|
Kepala,
tulang belakang, tulang punggung, dan kaki.
|
Tulang
|
|
Berat
badan.
|
Seluruh
Tubuh.
|
Seluruh jaringan,
khususnya lemak, otot, tulang tulang dan air
|
|
Lingkaran
lengan
|
Lemak
bawah kulit
|
Otot(secara
teknik lebih sedikit digunakan di Negara maju)
|
|
Otot,
tulang
|
Lemak
(Lebih sering digunakan secara teknik di Negara maju)
|
|
|
Lipatan
lemak
|
Lemak
bawah kulit, kulit
|
Lemak
|
Immunity
status is a system that protect the human body against foreign substances. Good
immunity status can prevent various diseases. Several risk factors that make a
person susceptible to infection is less nutritional status. Immunonutrition
intake consists of some specific nutrient components that can form the immune
system.[10]
C.
Jenis
Parameter
Parameter
adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia, antara lain: umur, berat badan,
tinggi badan, lingkar lengana tas, lingkar kepala, lingkar dada. Lingkar
pinggul, dan tebal lemak dibawah kulit. Dibawah ini akan diuraikan parameter
itu.
1. Umur
Menurut
Puslitbang Gizi Bogor (1980), batasan umur digunakan adalah tahun umur penuh (Completed Year) dan untuk anak umur 0-2
tahun digunakan bulan usia penuh (Completed
Month).
·
Contoh : Tahun usia
penuh (Completed Year)
Umur
: 7 tahun 2 bulan, dihitung 7 tahun
6 tahun 11 bulan, dihitung 6 tahun
· Contoh
: Bulan Usia penuh (Completed Month)
Umur : 4 bulan 5
hari, dihitung 4 bulan
3 bulan 27 hari, dihitung 3 bulan
Untuk melengkapi data umur dilakukan
dengan cara-cara sebagai berikut:[11]
a. Meminta
surat kelahiran, KK atau cacatan lain yang dibut oleh orang tuanya. Apabila
tidak ada, jika memungkinkan cobalaj minta catatan kelahiran pada pamong desa.
b. Jika
diketahui kalender local seperti bulan Arab atau bulan local (Jawa, Sunda,
dll), cocokan dengan kalender nasional.
c. Jika
tetap tidak diketahui, catatan kelahiran anak berdasarkan daya ingat orang tua
atau berdasarkan kejadian-kejadian penting, seperti lebaran, tahun baru, puasa,
pemilihan kepala desa atau peristiwa nasional. Sebelum pengumpulan data,
buatlah daftar tentang tanggal, bulan dan tahun kejadian dari
peristiwa-pweristiwa penting di daerah dimana kita ingin mengumpulkan data.
d. Cara
lain jika memungkinkan dapat dilakukan dengan membandingkan anak yang diketahui
umurnya dengan anak kerabat yang diketahui pasti tanggal lahirnya, misalnya :
beberapa bulan lebih muda atau lebih tua.
e. Jika
tanggal lahirnya tidak diketahui dengan tepat, sedangkan bulan dan tahunnya
diketahui, maka tanggal lahir anak tsb ditentukan tanggal 15 bulan yang
bersangkutan.
2. Berat
Badan
Berat badan menggambarkan jumlah
dari protein, lemak, air dan mineral pada tulang. Pada remaja, lemak tubuh
cenderung meningkat, dan protein otot menurun. Pada orang yang endema dan
asites terjadi penambahan cairan dalam tubuh. Adanya tumor dapat menurunkan
jaringan lemak dan otot, khususnya terjadi pada orang kekurangan gizi. Berat
badan merupakan pilihan utama karena berbagai penimbangan :
a. Parameter
yang paling baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu singkat karena
perubahan-perubahan konsumsu makanana darn kesehatan.
b. Memberikan
gambaran status gizi sekarang dan kalau dilakukan secara periodic memberikan
gambaran yang baik tentang pertumbuhan.
c. Merupakan
ukuran antropometri yang sudah dipakai secara umum dan luas di Indonesia
sehingga tidak merupakan hal baru yang memerlukan penjelasan secara meluas.
d. Ketelitian
pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh keterrampilan pengukuran
e. KMS
yang digunakan sebagai alat yang baik untuk pendidikan dan memonito kesehatan
anak menggunakan juga berat badn sebagai dasar pengisiannya.
f. Karena
masalah umur merupakan faktor penting untuk penilaian status gizi, berat badan
terhadap tinggi badan sudah dibktikan dimana-mana sebagai indeks yang tidak
tergantung pada umur.
g. Alat
pengukuran dapat diperoleh di daerah pedesaan dengan ketelitian yang tinggi
dengan menggunakan dacin yang juga sudah dikenal masyarakat.
Penentuan berat badan dilakukan dengan cara
menimbang. Alat yang digunakan di lapangan sebaiknya memenuhi beberapa
persyaratan :
1)
Mudah digunakan dan
dibawa dari satu tempat ke tempat yang lain.
2)
Mudah diperoleh dan
harganya juga murah.
3)
Ketelitian penimbangan
sebaiknya maksimum 0,1 kg
4)
Skalanya mudah dibaca
5) Cukup
aman untuk menimbang anak balita
Alat yang dapat memenuhi persyaratan dan
kemudian dipilih dan dianjurkan untuk digunakan dalam penimbangan anak balita adalah dacin. Penggunaan
dacin mempunyai beberapa keuntungan antara lain:
1)
Dacin sudah dikenal
umum sampai dipelosok pedesaan
2)
Dibuat di Indonesia,
bukan impor, dan mudah didapat
3) Ketelitian
dan ketepatan yang cukup baik.
Jenis timbangan lain yang digunakan
adalah detecto yang terdapat di Puskesmas. Timbangan kamar mandi tidak
dapat dipakai menimbang anak Balita, kerena menggunakan per, sehingga hasilnya
dapat berubah-ubah menurut kepekaan per-nya. Alat lain yang diperlukan adalah
kantong celana timbang atau kain sarung, kotak atau keranjang yang tidak
membahayakan anak terjatuh pada waktu ditimbang. Diperlukan pula tali atau
sejenisnya yang cukup kuat untuk menggantungkan dacin.Cara menimbang berat
badan, diberikan petunjuk bagaimana menimbang balita dengan menggunakan dacin.
Langkah-langkah tsb dikenal dengan 9 langkah penimbangan, yaitu :
a. Langkah
1. Gantungkan dacin pada:
·
Dahan pohon
·
Palang rumah, atau
·
Penyangga kaki tiga
b.
Langkah 2. Periksalah
apakah dacin sudah tergantung kuat. Tarik batang dacin kebawah kuat-kuat.
c.
Langkah 3. Sebelum
dipakai letakkan bandul geser pada angka 0 (nol). Batang dacin dikaitkan dengan
tali pengaman.
d.
Langkah 4. Pasanglah
celana timbang, kotak timbang atau sarung timbang yang kosong pada dacin. Ingat
bandul geser pada angka 0(nol)
e.
Langkah 5. Seimbangkan
dacin yang sudah dibebani celana timbang, sarung timbang, atau kotak timbangan
dengan cara memasukkan pasir ke dalam kantong plastic.
f.
Langkah 6. Anak
ditimbang, dan seimbangkan dacin
g.
Langkah 7. Tentukan
berat badan anak, dengan membaca angka di ujung bandul geser.
h.
Langkah 8. Catat hasil
penimbangan diatas dengan secarik kertas.
i.
Langkah 9. Geserlah
bandul ke angka 0. Letakkan batang dacindalam tali pengaman, setelah itu bayi
atau anak dapat diturunkan.
Terdapat
beberapa alasan mengapa pengukuran berat badan merupakan pilihan utama, yaitu:
a. Parameter
yang paling baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu singkat karena perubahan
konsumsi makanan dan kesehatan
b. Memberikan
gambaran status gizi sekarang, jika dilakukan periodik memberikan gambaran
pertumbuhan
c. Umum
dan luas dipakai di Indonesia
d. Ketelitian
pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh keterampilan pengukur
e. Digunakan
dalam KMS
f. BB/TB
merupakan indeks yang tidak tergantung umur
g. Alat
ukur dapat diperoleh di pedesaan dengan ketelitian tinggi, seperti: dacin
3. Tinggi
Badan
Tinggi Badan merupakan
antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaa
normal, TB tumbuh seiring dengan pertambahan umur. Pertumbuhan TB tidak seperti
BB, relatif kurang sensitif pada masalah kekurangan gizi dalam waktu singkat.
Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap TB akan nampak dalam waktu yang relatif
lama.
Tinggi Badan (TB)
merupakan parameter paling penting bagi keadaan yang telah lalu dan keadaan
sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat.[12]
Tinggi badan juga merupakan ukuran kedua yang penting, karena dengan menghubungkan
BB terhadap TB (quac stick) faktor umur dapat dikesampingkan. Alat untuk
mengukur tinggi badan diantaranya:
a. Alat
Pengukur Panjang Badan Bayi. Alat ini dipergunakan pada bayi atau anak yang
belum dapat berdiri.
b. Microtoise.
Dipergunakan untuk anak yang sudah bisa berdiri
4. Lingkar
Lengan Atas
Merupakan
salah satu pilihan untuk penentuan status gizi, karena mudah, murah dan cepat.
Tidak memerlukan data umur yang terkadang susah diperoleh. Memberikan gambaran
tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit. Lingkar lengan
atas mencerminkan cadangan energi, sehingga dapat mencerminkan:
a. Status
KEP pada balita
b. KEK
pada ibu WUS dan ibu hamil: risiko bayi BBLR
Alat
yang dipergunakan untuk mengukur lingkar lengan atas adalah suatu pita pengukur
dari fiber glass atau sejenis kertas tertentu berlapis plastik. Cara mengukur
LLA. Ada 7 urutan pengukuran LLA, yaitu :
1) Tetapkan
posisi bahu dan siku
2)
Letakkan pita antara
bahu dan siku
3)
Tentukan titik tengah
lengan
4)
Lingkarkan pita LLA
pada tengah lengan
5)
Pita jangan terlalu
ketat
6)
Pita jangan terlalu
longgar
7) Cara
pembacaan skala yang benar
Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam pengukuran LLA adalah pengukuran dilakukan
dibagian tengah antara bahu dan siku lengan kiri (kecuali orang kidal dilakukan
pada lengan kanan). Lengan harus dalam posisi bebas, lengan baju dan otot lenga
dalam keadaan tidak tegan atau kencang. Alat pengukur dalam keadaan baik dalam
arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat sehigga permukaannya sudah tidak
rata. Ambang batas (Cut of Points) dari lingkar lengan atas adalah:
a. LLA
WUS dengan risiko KEK di Indonesia < 23.5 cm
b. Pada
bayi 0-30 hari : ≥9.5 cm
c. Balita
dengan KEP <12.5 cm
Kelemahan
parameter lingkar lengan atas adalah:
a. Baku
LLA yang sekarang digunakan belum mendapat pengujian yang memadai untuk
digunakan di Indonesia
b. Kesalahan
pengukuran relatif lebih besar dibandingkan pada TB
c. Sensitif
untuk suatu golongan tertentu (prasekolah), tetapi kurang sensitif untuk
golongan dewasa
5. Lingkar Kepala
Lingkar
kepala adalah standar prosedur dalam ilmu kedokteran anak secara praktis,
biasanya untuk memeriksa keadaan patologi dari besarnya kepala atau peningkatan
ukuran kepala. Contoh: hidrosefalus dan mikrosefalus.
Lingkar
kepala dihubungkan dengan ukuran otak dan tulang tengkorak. Ukuran otak meningkat
secara cepat selama tahun pertama, tetapi besar lingkar kepala tidak
menggambarkan keadaan kesehatan dan gizi. Bagaimanapun ukuran otak dan lapisan
tulang kepala dan tengkorak dapat bervariasi sesuai dengan keadaan gizi. Dalam
antropometri gizi rasio lingkar kepala dan lingkar dada cukup berarti dan
menentukan KEP pada anak. Lingkar kepala juga digunakan sebagai informasi
tambahan daam pengukuran umur.
6. Lingkar Dada
Biasa digunakan pada anak umur 2-3 tahun, karena pertumbuhan lingkar dada pesat sampai anak berumur 3 tahun. Rasio lingkar dada dan kepala dapat digunakan sebagai indikator KEP pada balita. Pada umur 6 bulan lingkar dada dan kepala sama. Setelah umur ini lingkar kepala tumbuh lebih lambat daripada lingkar dada. Pada anak yang KEP terjadi pertumbuhan lingkar dada yang lambat dengan rasio lingkar dada dan kepala < 1.
7. Tinggi Lutut
Tinggi
lutut erat kaitannya dengan tinggi badan, sehingga data tinggi badan didapatkan
dari tinggi lutut bagi orang tidak dapat berdiri atau lansia. Pada lansia
digunakan tinggi lutut karena pada lansia terjadi penurunan masa tulang,
bertambah bungkuk, sehimgga bertambah sukar untuk mendapatkan data tinggi badan
akurat. Data tinggi badan lansia dapat menggunakan formula atau nomogram bagi
orang yang berusia >59 tahun. Formula (Gibson, RS; 1993):
Pria : (2.02 x tinggi lutut (cm)) – (0.04
x umur (tahun)) + 64.19
Wanita : (1.83 x tinggi lutut (cm)) – (0.24 x
umur (tahun)) + 84.88
8. Jaringan Lunak
Otot
dan lemak merupakan jaringan lunak yang bervariasi. Antropometri dapat dilakukan
pada jaringan tersebut untuk menilai status gizi di masyarakat. Lemak subkutan
(subcutaneous fat), penilaian komposisi tubuh termasuk untuk mendapatkan
informasi mengenai jumlah dan distribusi lemak dapat dilakukan dengan beberapa
metode, dari yang paling sulit hingga yang paling mudah. Metode yang digunakan
untuk menilai komposisi tubuh (jumlah dan distribusi lemak sub-kutan) antara
lain:
a. Ultrasonik
b. Densitometri
(melalui penempatan air pada densitometer atau underwater weighting)
c. Teknik
Isotop Dilution
d. Metoda
Radiological
e. Total
Electrical Body Conduction (TOBEC)
f. Antropometri
(pengukuran berbagai tebal lemak menggunakan kaliper: skin-fold calipers)
Metode
yang paling sering dan praktis digunakan di lapangan adalah Antropometri
fisik. Standar atau jangkauan jepitan 20-40 mm2, ketelitian 0.1 mm, tekanan
konstan 10 g/ mm2. Jenis alat yang sering digunakan Harpenden Calipers,
alatini memungkinkan jarum diputar ke titik nol apabila terlihat penyimpangan.
Ada beberapa pengukuran tebal lemak dengan menggunakan kaliper, antara lain:
a.
Pengukuran triceps
b.
Pengukuran bisep
c.
Pengukuran suprailiak
d. Pengukuran
subskapular
D.
Indeks
Antropometri
Adalah
pengukuran dari beberapa parameter. Indeks antropometri merupakan rasio dari
suatu pengukuran terhadap satu atau lebih pengukuran atau yang dihubungkan
dengan umur.
Terdapat
beberapa indeks antropometri, antara lain:[13]
1. BB/U
(Berat Badan terhadap Umur)
Kelebihan:
a. Lebih
mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat
b. Baik
untuk mengukur status gizi akut dan kronis
c. Indikator
status gizi kurang saat sekarang
d. Sensitif
terhadap perubahan kecil
e. Growth
monitoring
f. Pengukuran
yang berulang dapat mendeteksi growth failure karena infeksi atau KEP
g. Dapat
mendeteksi kegemukan (overweight)
Kekurangan:
a.
Kadang umur secara
akurat sulit didapat
b.
Dapat menimbulkan
interpretasi keliru bila terdapat edema maupun asites
c.
Memerlukan data umur
yang akurat terutama untuk usia balita
d. Sering
terjadi kesalahan dalam pengukruan, seperti pengaruh pakaian atau gerakan anak
saat ditimbang
e.
Secara operasional: hambatan
sosial budaya, tidak mau menimbang anak karena seperti barang dagangan
2. TB/
U (Tinggi Badan terhadap Umur)
Menurut
Beaton dan Bengoa (1973) indeks TB/U dapat memberikan status gizi masa lampau
dan status sosial ekonomi.
Kelebihan:
a. Baik
untuk menilai status gizi masa lampau
b. Alat
dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa
c. Indikator
kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa
Kekurangan:
a. TB
tidak cepat naik, bahkan tidak mungkin turun
b. Diperlukan
2 orang untuk melakukan pengukuran, karena biasanya anak relatif sulit berdiri
tegak
c. Ketepatan
umur sulit didapat
3. BB/
TB (Berat Badan terhadap Tinggi Badan)
BB
memiliki hubungan linear dengan TB. Dalam keadaan normal perkembangan BB searah
dengan pertumbuhan TB dengan kecepatan tertentu.
Kelebihan:
a. Tidak
memerlukan data umur
b. Dapat
membedakan proporsi badan (gemuk, normal, kurus)
c. Dapat
menjadi indikator status gizi saat ini (current nutrition status)
Kekurangan:
a.
Karena faktor umur
tidak dipertimbangkan, maka tidak dapat memberikan gambaran apakah anak pendek
atau cukup TB atau kelebihan TB menurut umur
b.
Operasional: sulit
melakukan pengukuran TB pada balita
c.
Pengukuran relatif
lebih lama
d.
Memerlukan 2 orang
untuk melakukannya
e.
Sering terjadi
kesalahan dalam pembacaan hasil pengukuran, terutama bila dilakukan oleh kelompok
nonprofesional
4. Lila/
U (Lingkar Lengan Atas terhadap Umur)
Lingkar
lengan atas (LLA) berkorelasi dengan indeks BB/U maupun BB/TB. Seperti BB, LLA
merupakan parameter yang labil karena dapat berubah-ubah cepat, karenanya baik
untuk menilai status gizi masa kini. Perkembangan LLA (Jellife`1996):
a. Pada
tahun pertama kehidupan : 5.4 cm
b. Pada
umur 2-5
tahun
: <1.5 cm
Penggunaan
LLA sebagai indikator status gizi, disamping digunakan secara tunggal, juga
dalam bentuk kombinasi dengan parameter lainnya seperti LLA/U dan LLA/TB (Quack
Stick).
Kelebihan:
a. Indikator
yang baik untuk menilai KEP berat
b. Alat
ukur murah, sederhana, sangat ringan, dapat dibuat sendiri, kader posyandu
dapat melakukannya
c. Dapat
digunakan oleh orang yang tidak membaca tulis, dengan memberi kode warna untuk
menentukan tingkat keadaan gizi
Kekurangan:
a.
Hanya dapat
mengidentifikasi anak dengan KEP berat
b.
Sulit menemukan ambang
batas
c.
Sulit untuk melihat
pertumbuhan anak 2-5 tahun
5. Indeks
Massa Tubuh (IMT)
IMT
digunakan berdasarkan rekomendasi FAO/WHO/UNO tahun 1985: batasan BB normal
orang dewasa ditentukan berdasarkan Body Mass Index (BMI/IMT). IMT
merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa (usia 18
tahun ke atas), khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan BB.
IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil dan olahragawan.
Juga tidak dapat diterapkan pada keadaan khsusus (penyakit) seperti edema,
asites dan hepatomegali. Kategori Ambang Batas IMT untuk Indonesia
|
Kategori
|
IMT
|
|
|
Kurus
|
Kekurangan BB
tingkat berat
|
< 17,0
|
|
Kekurangan BB
tingkat ringan
|
17,0-18,5
|
|
|
Normal
|
> 18,7-25,0
|
|
|
Gemuk
|
Kelebihan BB
tingkat ringan
|
> 25,0-27,0
|
|
Kelebihan BB
tingkat berat
|
> 27,0
|
6. Tebal
Lemak Bawah Kulit menurut Umur
Pengukuran
lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit (skinfold)
dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misalnya: lengan atas (tricep dan bicep),
lengan bawah (forearm), tulang belikat (subscapular), di tengah
garis ketiak (midaxillary), sisi dada (pectoral), perut (abdominal),
suprailiaka, paha, tempurung lutut (suprapatellar), pertengahan
tungkai bawah (medial calv).
Lemak
dapat diukur secara absolut (dalam kg) dan secara relatif (%) terhadap berat
tubuh total. Jumlah lemak tubuh sangat bervariasi ditentukan oleh jenis kelamin
dan umur. Lemak bawah kulit pria 3.1 kg, wanita 5.1 kg
7. Rasio
Lingkar Pinggang dan Pinggul
Banyaknya
lemak dalam perut menunjukkan ada beberapa perubahan metabolisme, termasuk
terhadap insulin dan meningkatnya produksi asam lemak bebas, dibanding dengan
banyaknya lemak bawah kulit pada kaki dan tangan. Perubahan metabolisme
memberikan gambaran tentang pemeriksaan penyakit yang berhubungan dengan
perbedaan distribusi lemak tubuh.
Ukuran
yang umur digunakan adalah rasio lingkar pinggang-pinggul. Pengukuran lingkar
pinggang dan pinggul harus dilakukan oleh tenaga terlatih dan posisi pengukuran
harus tepat, karena perbedaan posisi pengukuran memberikan hasil yang berbeda.
Rasio lingkar pinggang-pinggul untuk perempuan: 0.77, laki-laki: 0.90 (Seidell
dkk, 1980).
Suatu
studi prospektif menunjukkan rasio pinggang-pinggul berhubungan dengan penyakit
kardiovaskular. Rasio lingkar pinggang dan pinggul penderita penyakit
kardiovaskular dengan orang sehat 0.938 dan 0.9251
Ambang
Batas (Cut Off Points)
Dari
berbagai jenis indeks antropometri diperlukan ambang batas untuk
menginterpretasikannya. Ambang batas dapat disajikan dalam 3 cara, yaitu:
1. Persen
terhadap Median
Nilai
median adalah nilai tengah dari suatu populasi. Dalam antropometri gizi, median
= persentil 50. Nilai median ini dinyatakan = 100% (untuk standar). Setelah
itu, dihitung persentase terhadap nilai median untuk mendapatkan ambang batas.
Contoh:
BB
anak umur 2 tahun = 12 kg, maka 80% median = 9.6 kg, 60% median = 7.2 kg. Jika
80% dan 60% dianggap ambang batas, maka anak umur 2 tahun mempunyai BB antara
7.2-9.6 kg (60-80% median) dinyatakan status gizi kurang dan dibawah 7.2 kg
(<60% median) dinyatakan berstatus gizi buruk.
Status
Gizi Berdasarkan Indeks Antropometri[14]
|
Status
Gizi
|
Indeks
|
||
|
BB/U
|
TB/U
|
BB/TB
|
|
|
Gizi Baik
|
> 80%
|
> 90%
|
> 90%
|
|
Gizi Sedang
|
71%-80%
|
81-90%
|
81-90%
|
|
Gizi Kurang
|
61%-70%
|
71-80%
|
71-80%
|
|
Gizi Buruk
|
≤ 60%
|
≤ 70%
|
≤ 70%
|
2. Persentil
Para
pakar merasa kurang puas menggunakan persen terhadap median. Persentil 50 sama
dengan median dan nilai tengah dari jumlah populasi.
Contoh:
Ada
100 anak diukur tingginya, kemudian diurutkan dari yang terkecil. Ali berada
pada urutan 15 berarti persentil 15, berarti 14 anak berada di bawahnya dan 85
anak berada di atasnya. NCHS merekomendasikan: Persentil ke-5 sebagai batas
gizi baik dan kurang, persentil 95sebagai batas gizi lebih dan baik.
3. Standar
Deviasi Unit (SD) atau Z-Skor
SD
disebut juga Z-skor. WHO menyarankan menggunakan cara ini untuk meneliti dan
untuk memantau pertumbuhan:
1
SD unit (1 Z-skor) + sama dengan 11% dari median BB/U
1
SD unit (1 Z-skor) kira-kira 10% dari median BB/TB
1
SD unit (1 Z-skor) kira-kira 5% dari median TB/U
Waterlow
juga merekomendasikan penggunaan SD untuk menyatakan ukuran pertumbuhan (Growth
Monitoring). WHO memberikan gambaran perhitungan SD unit terhadap baku NCHS
Contoh:
1 SD unit = 11-12% unit dari median BB/U, misalnya
seorang anak berada pada 75% median BB/U berarti 25% unit berada di bawah
median atau -2. Pertumbuhan nasional untuk suatu populasi dinyatakan dalam
positif dan negatif 2 SD unit (Z-skor) dari median, yang termasuk hampir 98%
dari orang-orang yang diukur yang berasal dari referensi populasi. Di bawah -2 SD
unit dinyatakan sebagai kurang gizi yang ekuivalen dengan:
78%
dari median untuk BB/U (+ 3 persentil)
80%
median untuk BB/TB
90%
median untuk TB/U
Rumus
perhitungan Z-skor:
Z-skor
= Nilai Individu Subjek – Nilai Median
Baku Rujukan
Nilai
Simpang Baku Rujukan
E.
Keunggulan
dan Kelemahan Antropometri
Keunggulan
Antropometri adalah :
1. Prosedurnya
sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel yang besar.
2.
Relative tidak
membutuhkan tenaga ahli, tetapi cukup dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih
dalam waktu singkat dapat melakukan pengukuran antropometri.
3.
Alatnya murah, mudah
dibawa, tahan lama, dapat dipesan dan dibuat di daerah setempat.
4.
Metode ini tepat dan
akurat, karena dapat dibakukan.
5.
Dapat mendeteksi atau
menggambarkan riwayat gizi dimasa lampau.
6.
Umumnya dapat
mengidentifikasi status gizi sedang, kurang, dan buruk, karena sudah ada ambang
batas yang jelas.
7.
Metode antropometri
dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu, atau dari satu
generasi ke generasi berikutnya.
8.
Dapat digunakan untuk
penapisan sekelompok yang terhadap gizi.[15]
Kelemahan
Antropometri adalah:[16]
1.
Tidak sensitive-metode
ini tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat.
2.
Faktor diluar gizi
(penyakit, genetic, dan penurunan penggunaan energy) dapat menurunkan
spesifikasi dan sensitivitas pengukuran antropometri.
3.
Kesalahan yang terjadi
pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas
pengukuran antropometri gizi.
4.
Kesalahan ini terjadi
karena :
1)
Pengukuran
2)
Perubahan hasil pengukuran
baik fisik maupun komposisi jaringan
3)
Analisis dan asumsi
yang keliru
4)
Sumber kesalahan,
biasanya berhubungan dengan :
5)
Latihan petugas yang
tidak cukup
6)
Kesalahan alat atau
alat tidak ditera
7)
Kesulitan pengukuran
Tujuan penggunaan antropometri pemakai:[17]
1.
Untuk mengurangi
tingkat kelelahan kerja
2.
Meningkatkan
performansi kerja
3. Meminimasi
potensi kecelakaan kerja
F. Klasifikasi Status Gizi
Kepmenkes
RI Nomor:920/Menkes/SK/VIII/2002 tentang klasifikasi status gizi anak balita.
Berdasarkan perkembangan iptek dan hasil temu pakar gizi Indonesia Mei 2000 di
Semarang, standar baku antropometri yang digunakan secara nasional disepakati
menggunakan standar baku WHO-NCHS 1983
Klasifikasi
Status Gizi Anak Balita Berdasarkan Kepmenkes Nomor: 920/Menkes/SK/VIII/2002
|
Indeks
|
Status
Gizi
|
Ambang
Batas*)
|
|
BB/U
|
Gizi Lebih
|
> +2SD
|
|
Gizi baik
|
> -2 SD
sampai +2SD
|
|
|
Gizi kurang
|
< -2SD
sampai ≥ -3SD
|
|
|
Gizi buruk
|
< -3SD
|
|
|
TB/U
|
Normal
|
≥ 2SD
|
|
Pendek (stunted)
|
< -2SD
|
|
|
BB/TB
|
Gemuk
|
> +2SD
|
|
Normal
|
≥ -2SD sampai
+2SD
|
|
|
Kurus (wasted)
|
< -2SD
sampai ≥ -3SD
|
|
|
Kurus sekali
|
< -3SD
|
G. Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi
Banyak
pendapat mengenai faktor determinan yang dapat menyebabkan timbulnya masalah
gizi pada bayi di antaranya menurut Schroeder (2001), menyatakan bahwa
kekurangan gizi dipengaruhi oleh Functional outcome (mis.kognitif Status Gizi /
Pertumbuhan Kematian Intake Makanan Perawatan / Pola Asuh ketersediaan Makanan
Infeksi Pelayanan Kesehatan konsumsi makan makanan yang kurang
dan adanya penyakit infeksi sedangkan penyebab mendasar adalah makanan,
perawatan (pola asuh) dan pelayanan kesehatan[18].
1.
Asupan Balita
Pemberian makanan bergizi dalam
jumlah yang cukup pada masa balita merupakan hal yang perlu mendapat perhatian
serius agar anak tidak jatuh ke keadaan kurang gizi. Apalagi dalam masa itu
terjadi penyapihan yaitu peralihan antara penyusuan dan makanan dewasa sebagai
sumber energi dan zat gizi utama. Pada masa penyapihan biasanya pemberian ASI
mulai dikurangi atau konsumsi ASI berkurang dengan sendirinya
sehingga untuk mencukupi kebutuhan gizi anak perlu diberi makanan tambahan.
Makanan yang dikonsumsi dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan gizi anak
khususnya energi dan protein (Sulaeman dan Muchtadi, 2003 ).
Setelah anak
umur dua tahun kecukupan zat gizi baik kecukupan energi maupun protein harus
dipenuhi dari makanan sehari, karena setelah anak berumur 6 bulan pemberian ASI
saja sudah tidak mencukupi yang dibutuhkan oleh anak. Kebutuhan energi untuk
bayi 7 – 12 bulan adalah 650 kkal dengan protein 16 g dan anak umur 1 – 3 tahun
kebutuhan energinya adalah 1000 kkal dan protein 25 g (Hardinsyah, 2004)
2.
Infeksi
Infeksi mempunyai efek terhadap
status gizi untuk semua umur, tetapi lebih nyata pada kelompok anak-anak.
infeksi juga mempunyai kontribusi
terhadap defisiensi energi, protein, dan gizi lain karena menurunnya nafsu
makan sehingga asupan makanan berkurang. Kebutuhan energi pada saat infeksi
bisa mencapai dua kali kebutuhan normal karena meningkatnya metabolisme basal.
Hal ini menyebabkan deplesi otot dan glikogen hati (Thaha, 1995).
Penyakit infeksi yang menyerang anak
menyebabkan gizi anak menjadi buruk. Memburuknya keadaan gizi anak akibat
penyakit infeksi dapat menyebabkan turunnya nafsu makan, sehingga masukan zat
gizi berkurang padahal anak justru memerlukan zat gizi yang lebih banyak.
Penyakit infeksi sering disertai oleh diare dan muntah yang menyebabkan
penderita kehilangan cairan dan sejumlah zat gizi seperti mineral, dan
sebagainya.[19]
3.
Pengetahuan
Faktor
pendidikan dan pengetahuan yang rendah dari sebagian ibu akan pentingnya
pemberian makanan bergizi dan seimbang untuk anaknya dapat dikaitkan dengan
masalah KEP. Disamping itu, tingginya kasus gizi buruk di Sulawesi Selatan
tidak bisa dipisahkan dari faktor perilaku yang ada di masyarakat. Faktor
perilaku ini bersama-sama dengan rendahnya daya beli kemungkinan berjalan
sinergis terhadap timbulnya kasus kurang gizi.
Adanya
anggapan bahwa banyak makan ikan menyebabkan kecacingan, atau tidak mau makan
sayur karena sayuran dianggap makanan ternak, merupakan contoh kecil yang tidak
sedikit ditemukan di masyarakat. Pandangan yang salah terhadap jenis-jenis
makanan tertentu menyebabkan mereka tidak mau mengkonsumsi atau tidak
memberikan makanan tersebut kepada anaknya.[20]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan dan Saran
Antropometri merupakan salah satu metode yag
digunakan untuk menilai status gizi seseorang yang umum digunakan untuk
mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan
energi. Gangguan biasanya terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi
jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh. Berbagai jenis
ukuran tubuh dalam antropometri antara lain berat badan, tinggi badan, lingkar
lengan atas, lingkar pinggang, lingkar panggul, lingkar lengan atas dan tebal
lemak di bawah kulit.
Pengukuran tersebut tidak luput dari
ketidaksensitifan dan kesalahan, olehkarena itu setiap melakukan pengukuran
hendaknya melakukan bebera hal berikut
seperti memilih alat ukur yang sesuai, membuat aturan pelaksanaan pengukuran, pelatihan
petugas, peneraan alat ukur secara berkala pengukuran silang antar observer dan
pengawasan (uji petik).
DAFTAR PUSTAKA
Gibson. 1990. Principles of Nutritional Asessment. New York: Oxford University Press.
Jelliffe, D. B, 1989. Community Nutritional
Asessment. New York: Oxford University Press.
WHO Technical Report Series, 1995. Physical
Status: The Use and Interpretion of anthropometry. Geneva: WHO
Supariasa,
dkk. 2001. Penilaian Status Gizi.
Jakarta: EGC.
Meeyana Adriani. (2012). Peranan Gizi dalam Siklus Kehidupan. Jakarta. Kencana. Hlm.
210.
Antropometri
diakses dari http://tedjho.wordpress.com/tag/jenis-parameter-antropometri/
pada 9 April 2016
Penilaian
status gizi antropometri diakses dari http://rukayahgizi11.blogspot.com/2012/12/penilaian-status-gizi-antropometri-imt.html
pada tanggal 9 April 2016
Antropometrihttp://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._TEKNIK_ARSITEKTUR/196212311988032RR._TJAHYANI_BUSONO/ERGONOMIKA/ANTROPOMETRI.pdf.
diunduh pada 11 April 2016
Masitah
Matondang. (2007). STATUS GIZI
DAN POLA MAKAN PADA ANAK TAMAN KANAK-KANAK DI YAYASAN MUSLIMAT R.A AL –
ITTIHADIYAH.Tersediahttp://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14668/1/08E01511.pdf. Diunduh
tanggal 07 April 2016.
Siti
Fauziah. (2015). Laporan Praktikum Pengkajian Nutrisi Antropometri dan IMT.
Tersedia http://hajarsimpingf.blogspot.co.id/2015/03/contoh-pengukuran-antropometri.html.
di unduh tanggal 12 April 2016.
Junda
Pakiringan. (2011). Pengukuran
Antropometri. Tersedia http://jundapakiringan.blogspot.co.id/2011/05/pengukuran-antropometri.html. di unduh pada 13
April 2016.
Agung Prasetyo. (2015). THE ASSOCIATION BETWEEN INTAKE OF ENERGY, PROTEIN AND PHYSICAL ACTIVITY WITH NUTRITIONAL STATUS OF ELDERLY PEOPLE. Tersedia http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/view/526. Diunduh tanggal 10 April 2016.
Anggraini. (2014). The Relationship Between Nytritional Status and Immunonutrition Intake with Immunity Status. Tersedia http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/juke/article/view/656. Diunduh tanggal 8 April 2016.
Antropometrihttp://ilkom.journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan/article/view/4578. Diunduh tanggal 13 April 2016.
[1]Meeyana Adriani. (2012). Peranan
Gizi dalam Siklus Kehidupan. Jakarta. Kencana. Hlm. 210.
[2]Gibson S.R. 1990. Prinsiples of Nutritional Asessment. New York: Oxford University Press. Hlm. 64.
[3]Agung Prasetyo. (2015). THE ASSOCIATION BETWEEN INTAKE OF ENERGY, PROTEINANDPHYSICAL ACTIVITYWITH NUTRITIONAL STATUS OF ELDERLY PEOPLE. Tersedia http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/view/526. Diunduh tanggal 10 April 2016.
[4]Supariasa, dkk. 2001. Penilaian
Status Gizi. Jakarta: EGC. Hlm. 31.
[5]Hadju V, 1999.
Penilaian Status Gizi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin,
Makassar. Hlm. 24.
[6]Supriasa., hlm. 34.
[7]Jelliffe, D. B. 1989. Community Nutritional Asessment. New York: Oxford University Press.hlm 56.
[8]Penilaian
status gizi antropometri diakses dari http://rukayahgizi11.blogspot.com/2012/12/penilaian-status-gizi-antropometri-imt.html
pada tanggal 10 April 2016
[9]Soekirman.
2000. ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat.
Dirjen Dikti,
Depdiknas, Jakarta. Hlm. 64.
[10]Anggraini. (2014). The Relationship Between Nytritional Status and Immunonutrition Intake with Immunity Status. Tersedia http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/juke/article/view/656. Diunduh tanggal 8 April 2016.
[11]Masitah Matondang. (2007). STATUS GIZI DAN POLA
MAKAN PADA ANAK TAMAN KANAK-KANAK DI YAYASAN MUSLIMAT R.A AL – ITTIHADIYAH. Tersedia http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14668/1/08E01511.pdf. Diunduh tanggal 07 April 2016.
[12]Anggraini. (2014). The Relationship Between Nytritional Status and Immunonutrition Intake with Immunity Status. Tersedia http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/juke/article/view/656. Diunduh tanggal 8 April 2016.
[13]Meetana Adriana, Peranan Gizi
dalam Siklus Kehidupan.., hlm. 137.
[14]Junda Pakiringan.
(2011). Pengukuran Antropometri. Tersedia
http://jundapakiringan.blogspot.co.id/2011/05/pengukuran-antropometri.html. di unduh pada 13 April 2016.
[15] Supriasa, Penilaian Status
Gizi.., hlm. 35.
[16]Junda Pakiringan.
(2011). Pengukuran Antropometri. Tersedia
http://jundapakiringan.blogspot.co.id/2011/05/pengukuran-antropometri.html. di unduh pada 13 April 2016.
[18] Schroeder DG, 2001. Malnutrition, Edited Samba R.D.,
and Bluem M.W.L., Nutrition and Health in Development countries,Tatawa New
Jersey Humania Press. Hlm.45.
[19]Siti
Fauziah. (2015). Laporan Praktikum Pengkajian Nutrisi Antropometri dan IMT.
Tersedia http://hajarsimpingf.blogspot.co.id/2015/03/contoh-pengukuran-antropometri.html.
di unduh tanggal 12 April 2016.
[20]Antropometri
diakses dari http://tedjho.wordpress.com/tag/jenis-parameter-antropometri/
pada 9 April 2016

How to Play at the Lucky Club Casino Site
BalasHapusIn order luckyclub to make a deposit, you must first deposit a minimum of £10 and then create a new account at least 30 days after you have made your first deposit.